Kegiatan

on 20 Juli 2020
  • Message of the Director

Wabah Covid masih terus berkembang. Virus ini memiliki kecepatan yang mengikuti deret ukur. Pada awalnya untuk mencapai jumlah 1 juta pertama penderita di seluruh dunia perlu waktu 3 bulan. Sekarang pertambahan dari 13 juta ke 14 juta hanya butuh waktu 5 hari. 

Data penderita di Indonesia sejak 2 Maret 2020 menunjukkan untuk mencapai jumlah 10.000 pertama penderita perlu waktu 2 bulan sampai 2 Mei 2020. Sekarang di Indonesia pertambahan tiap hari sekitar 1500 an sehingga hanya butuh 6 hari untuk mencapai jumlah 10.000. Diperkirakan pada akhir Juli 2020 penderita sudah mencapai 100.000 orang. 

Virus Covid selain punya kecepatan penularan yang tinggi juga memiliki daya rusak yang besar. Data menunjukkan 4 - 5% penderita meninggal dunia. Maka perlu langkah bersama memeranginya. Perlu gerakan melalui edukasi masyarakat untuk pakai masker, cuci tangan dan jaga jarak. 

Penanganan wabah Covid selama ini fokus pada dua aspek yaitu kesehatan dan ekonomi. Kesehatan untuk memastikan penularan menurun dan berhenti. Ekonomi memastikan rakyat tetap memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Ada satu hal yang tidak boleh dilupakan yaitu para pelajar dan mahasiswa harus tetap belajar. Jadi selain kesehatan dan ekonomi maka pendidikan juga harus jadi prioritas. Untungnya Covid datang saat teknologi sudah memasuki era industri 4.0 dengan internet of things. Maka penggunaan online learning dan virtual classroom semakin massif karena tidak ada alternatif lain.

Agar proses belajar mengajar online dari rumah tetap berjalan dengan baik maka perlu kerja sama yang baik antara guru dan orang tua. Orang tua berperan juga sebagai pendamping di rumah. Guru tetap yang utama dengan menyajikan pembelajaran sinkron tatap maya dan asinkron belajar mandiri.

Faktor yang sangat menentukan yaitu kondisi psikologis anak. Sekolah harus menjamin anak anak belajar dengan senang dan bahagia. Cara belajar online perlu ditata ulang kurikulum dan waktu belajar. Terlalu lama di depan komputer bagi anak-anak akan sangat membosankan dan melelahkan. Untuk itu waktu belajar formal tatap maya harus dikurangi sampai 50%. 

Keterbatasan itu membuat materi belajar juga perlu dikurangi sampai 50%. Keterbatasan online learning dengan interaksi yang terbatas membuat banyak materi sulit untuk dipahami oleh siswa. Untuk itu hanya materi yang mungkin diajarkan saja yang masuk dalam kurikulum. 

Namun ada peluang dibalik tantangan. Pendidikan karakter dan keagamaan harus tetap bisa dijalankan. Kebersamaan anak dengan orang tua di rumah adalah kesempatan emas untuk belajar karakter dan agama melalui pembiasaan, pemotivasian dan peneladanan. 

Guru bekerja sama dengan orang tua membuat aktivitas positif untuk anak. Membantu orang tua di rumah, menjalankan ibadah bersama keluarga menjadi aktivitas yang positif untuk membangun keterikatan dan kedekatan anak dan orang tua. Mari terus belajar akademik, karakter dan agama di era pandemi.