Kegiatan

on 06 Juli 2020
  • Message of the Director

Pada bulan Juli ini sebagai awal tahun ajaran baru biasanya banyak perubahan kepemimpinan di dunia pendidikan. Kepala Sekolah baru banyak yang diangkat. Di lingkup Sekolah Islam Athirah hari ini Senin 6 Juli 2020 telah dilantik 10 Kepala Sekolah dan 2 Kepala Asrama serta 16 Wakil Kepala Sekolah dari tingkat TK sampai SMA. Sebagai pemimpin mereka diharapkan dapat menjalankan tugas kepemimpinan secara efektif. 

Sebelum pelantikan saya menyampaikan ada 5 hal yang harus diperhatikan agar dapat memimpin secara efektif sehingga amanah, tugas dan tanggung jawab dapat ditunaikan dengan baik. Semuanya diawali dengan huruf S yang bisa disingkat menjadi 5S yaitu spiritual, servant, speed, smart, solid. 

Spiritual terkait dengan keyakinan bahwa menjadi pemimpin itu amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia dan akhirat. Umar bun Abdul Aziz saat diangkat menjadi khalifah mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Dia menganggap itu musibah karena sadar beratnya amanah yang harus dijalankan. 

Berbeda dengan zaman sekarang. Umumnya kalau diangkat jadi pemimpin biasanya orang mengadakan syukuran. Amanah itu dianggap anugrah dan nikmat karena adanya kehormatan, fasilitas, gaji, tunjangan dan kekuasaan.

Kepemimpinan sebagai anugrah dan nikmat bukan di awal saat diangkat. Tapi jika sudah mampu menjadi pemimpin yang adil karena merupakan salah satu golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah di Hari Perhitungan. Jadi perlu usaha dan kerja keras agar dapat adil dalam memimpin. 

Komponen kedua dari kepemimpinan yaitu servant atau melayani. Dalam ajaran Islam pemimpin adalah khodimul ummah atau pelayan masyarakat. Kedudukannya harus dapat berdampak positif pada masyarakat yang dipimpinnya. Kebijakannya harus memihak kepada kepentingan rakyat. Bukan malah merugikan dan mengorbankan rakyatnya.

Biasanya kita temukan ada pemimpin bukan melayani tapi dilayani. Segala kebutuhannya dipenuhi sampai hal kecil juga harus dikerjakan orang lain. Membukakan pintu mobil dan membawakan tas kerja juga sama pelayan atau anak buahnya. Sebenarnya itu bukan pemimpin sejati tapi bos atau atasan saja. 

Komponen ketiga dari kepemimpinan efektif yaitu speed atau cepat. Pemimpin harus bergerak cepat apalagi di masa krisis seperti sekarang ini. Bertindak segera tapi bukan tergesa-gesa. Artinya cepat dan tepat penuh perhitingan. 

Untuk itu perlu didukung oleh komponen keempat yaitu smart atau cerdas. Ketepatan perlu kecerdasan memahami masalah, melakukan analisis dan mengambil keputusan untuk dieksekusi dalam program dan kebijakan. Jika cepat terkait kerja keras maka smart terkait dengan kerja cerdas. Jika dipadukan menjadi kerja tuntas dan antusias.

Agar dapat tuntas dan antusias maka dibutuhkan komponen kelima yaitu solid atau utuh. Wujudnya mampu bekerja dalam tim sehingga dapat kerja sama bukan sama-sama kerja. Agar dapat solid dalam satu tim dibutuhkan trust, care dan open communication. Bangun saling percaya sesama anggota tim. Dorong kepedulian dan ciptakan komunikasi yang terbuka. Kuncinya harus mau dan mampu mendengar. Bukan hanya mau didengar.

Jika pemimpin di seluruh bidang dan tingkatan di negeri kita tercinta Indonesia dapat menjalakan 5S ini (spiritual, servant, speed, smart dan solid) maka insya Allah permasalahan yang dihadapi negeri ini akan dapat dipecahkan. Akan terwujud negeri gemah ripah loh jinawi, baldatun thayyibatun wa rabbun ghofur. Negeri yang sejahtera lahir dan batin. Mari belajar menjadi pemimpin 5S. 

Makassar, 6 Juli 2020 

Syamril Al Bugisyi