Kegiatan

on 27 Januari 2020
  • Message of the Director

Hari Sabtu dan Ahad 18 dan 19 Januari 2020 lalu kami dari Tim Athirah memberi pelatihan pada kepsek dan wakasek yang berasal dari 6 SMA dan SMK di Pinrang. Setelah acara selesai,

salah seorang peserta yang merupakan Kepsek di Patobong Langnga mengajak melihat pesawat buatan Chaerul yang lagi viral. 

Selepas shalat ashar di masjid Al Munawwir Pinrang kami berangkat menuju lokasi yang berjarak sekitar 15 km dari Kota Pinrang. Tidak sulit menemukan lokasi workshop tempat Chaerul merakit pesawatnya. Saat tiba di pasar Langnga salah seorang dari kami turun untuk bertanya ke warga. Belum juga bicara sudah ditunjukkan lokasinya. Artinya sudah banyak orang yang bertanya.

Akhirnya kami pun tiba di lokasi. Hal pertama yang menarik bagi saya yaitu spanduk di luar dekat pintu masuk. Tertulis kata dalam Bahasa Bugis "resopa temmangingngi" yang artinya usaha tak kenal menyerah. Ungkapan ini memang sudah menjadi kearifan lokal bagi masyarakat Bugis. Ungkapan untuk mendorong semangat pantang menyerah. Terus berusaha sampai berhasil. 

Memasuki ruangan bengkel atau workshop terlihat pesawat bertenaga mesin motor dengan sayap modifikasi dilapisi bahan dari kain parasut. Sayang sekali saat itu Chaerul tidak ada karena sedang ke Jakarta diundang oleh KSAU. Beberapa dari keluarga dan teman Chaerul bercerita tentang proses pembuatan pesawat itu.

"Sayap ini sudah lima kali  diganti. Setiap uji coba dan gagal maka tidak bisa lagi digunakan", cerita salah seorang teman Chaerul. Ini bukti kegigihan dan pantang menyerah. Pengamalan dari kata "resopa temmangingngi". 

Salah satu warga yang sudah sepuh bercerita "Chaerul ini dari keluarga tidak mampu. Harus berhenti sekolah di kelas 3 SD karena orang tuanya tidak mampu membiayai sekolahnya". Lebih lanjut bapak sepuh tersebut bercerita "meskipun putus sekolah sejak kecil Chaerul sudah suka menggambar pesawat impiannya". 

Kekuatan impian, itulah salah satu kuncinya. Chaerul sudah memiliki impian (dream) membuat pesawat sendiri. Impian dapat menjadikan seseorang berusaha tak kenal menyerah. Namun impian tidak cukup. Harus disertai dengan keyakinan bahwa dia bisa dan mampu mewujudkan impiannya.

Bagi para inovator dan inventor, keyakinan ini sangat penting. Bagi mereka yang berlaku adalah "believing is seeing" atau keyakinan membuat dia sudah mampu melihat wujud sesuatu yang ingin dibuatnya. Di sini pentingnya kekuatan imaginasi yang membuat dia semakin yakin.

Berbeda dengan orang awam, yang berlaku adalah "seeing is believing". Harus lihat dulu baru yakin. Mereka butuh bukti baru bisa percaya. Makanya bisa jadi di awal para inovator dan inventor banyak dicibir karena dianggap tidak rasional. Tapi setelah dia berhasil menunjukkan bukti maka orang banyak pun mepercayainya.

Setelah mencoba duduk di kursi pilot dan mengamati lebih jauh bagian-bagian dari pesawat Chaerul tampak banyak bahan dari barang bekas yang dipasang. Knalpot, mesin, besi dan lain sebagainya. Baling-balingnya juga dari kayu. Bukan material khusus atau spesial dan baru karena memang dananya terbatas.  

Semakin terbukti bahwa impian dan keyakinan bisa membuat seseorang memiliki semangat pantang menyerah. Itulah "resopa temmangingngi" yang akhirnya "namalomo naletei pammase dewata" yang artinya akan mendapatkan pertolongan, petunjuk atau rahmat dari Allah. Chaerul telah membuktikannya.