Kegiatan

on 19 Desember 2019
  • Message of the Director

Ada yang menarik dari paparan Kepala Bappeda Provinsi Yogyakarta pada acara Rakernas Asosiasi Masjid Kampus Indonesia di Yogya pada Ahad 15 Desember 2019.


Beliau menjelaskan tentang hubungan antara kesejahteraan dan kebahagiaan dari angka IPM, pendapatan perkapita dan indeks kebahagiaan.   

Angka Indeks Pembangunan Manusia (IPM) DIY rangking dua setelah DKI Jakarta. IPM diukur pada tiga aspek yaitu pendidikan, kesehatan dan ekonomi. Pada aspek pendidikan dan kesehatan, DIY masih unggul dari DKI Jakarta. Tapi di aspek ekonomi DIY kalah jauh dari DKI Jakarta. Pendapatan per kapita dan rata-rata belanja DIY masih tergolong rendah sehingga secara ekonomi DIY masih kategori miskin. 

Namun saat diukur indeks kebahagiaan DIY jauh meninggalkan DKI Jakarta. DIY masuk 10 besar. Sedangkan DKI hampir rangking 20 (Sulsel peringkat 15). Padahal DKI provinsi yang paling sejahtera.

DKI Jakarta peringkat pertama pendapatan perkapita tertinggi. DIY peringkat 23 dan masuk kategori miskin. Sulsel peringkat 9. 

Ternyata kebahagiaan tidak ditentukan oleh kesejahteraan. Apa yang membuat DIY lebih bahagia daripada DKI Jakarta? Kepala Bappeda DIY menjelaskan karena masyarakat di DIY hidupnya lebih nrimo yaitu bersyukur, bersabar dan sederhana.

Nrimo bukan berarti malas dan menyerah. Tapi mereka bisa menikmati keadaan yang sulit. Di daerah yang tandus seperti di Gunung Kidul mereka biasa hanya makan dua kali sehari, rumah sederhana tapi tetap rukun hidup dan kumpul bersama dengan filosofi makan tidak makan kumpul.

Tiga komponen nrimo yaitu syukur, sabar dan sederhana yang jadi kunci bahagianya. Syukur itu fokus pada yang ada, bukan yang tidak ada. Setelah bekerja keras dan Allah memberi rezeki maka diterima dengan penuh rasa syukur. 

Sabar itu menahan diri. Maksudnya mampu mengendalikan hawa nafsu dari keinginan yang berlebihan yang tidak sesuai dengan kemampuan. Mendahulukan kebutuhan daripada keinginan yang terkadang tidak ada batasnya.

Jika keinginan melebihi kemampuan maka akan muncul stress. Banyak gaya akan menambah tekanan. Itu rumus fisikanya. Hidup juga demikian. Berlebihan dalam gaya hidup maka mudah stress karena utang dan gali lubang tutup lubang.

Orang yang mampu mengendalikan keinginannya sesuai dengan kebutuhannya maka hidupnya akan sederhana. Jika ia kaya maka hidupnya tidak akan foya-foya. Kekayaannya banyak digunakan untuk menolong sesama. Jika ia miskin maka hidupnya apa adanya. Mampu menyesuaikan diri dan tetap menjaga harga diri.

Jadi kunci kebahagiaan bukan pada kekayaan dan kesejahteraan tapi pada rasa syukur, sabar dan hidup sederhana. Siapapun dapat bahagia jika bersyukur dengan berbagi. Sabar dan mampu mengendalikan diri, jauh dari foya-foya. Bergaya hidup sederhana sesuai kebutuhan bukan keinginan.