Kegiatan

on 06 Oktober 2017
  • Message of the Director

Kalau literasi sudah kita tahu yaitu segala yang terkait dengan dunia baca tulis. Kalau lemoterasi itu apa? Kata lemoterasi itu dari bahasa bugis. Lemo artinya jeruk dan terasi yaitu bahan yang dibuat dari udang dan jadi campuran sambal atau cobe-cobe. Jadi lemoterasi yaitu kata yang mewakili cobe-cobe atau dunia kuliner.


Mengapa kata literasi dan lemoterasi disandingkan? Literasi mewakili pemenuhan kebutuhan non fisik (intelektual spiritual) manusia. Lemoterasi mewakili kebutuhan fisik (makanan) manusia. Mana yang penting? Tentunya keduanya penting. Tapi mana yang biasanya lebih dipentingkan?

Ternyata manusia lebih mementingkan kebutuhan fisiknya dibandingkan non fisik. Apa buktinya?Manusia lebih mudah resah dan gelisah jika kurang sehat atau ada masalah dalam penampilan fisik. Berbeda jika ada masalah non fisik misalnya muncul rasa malas, kenikmatan ibadah menurun, semangat mencari ilmu hilang. Manusia umumnya lebih semangat mendatangi salon atau klinik kecantikan bagi ibu ibu dibandingkan mendatangi majelis ilmu atau ahli agama untuk konsultasi masalah non fisiknya.

Lebih spesifik lagi ke kata literasi dan lemoterasi. Manusia lebih semangat mendatangi rumah makan untuk mencari makanan yang enak (wisata kuliner) dibandingkan mendatangi toko buku, majelis ilmu atau mencari artikel di internet untuk pencerahan jiwa dan pengembangan intelektual dan spiritual. Itu artinya secara umum literasi belum menjadi perhatian utama.

Bahkan pemerintah daerah untuk mendorong pertumbuhan wisata lebih mudah melalui pengembangan wisata kuliner dibandingkan wisata spiritual intelektual. Hampir semua kota besar di Indonesia memiliki ikon kuliner seperti Makassar dengan coto, palbas, konro dan sebagainya. Sangat jarang yang memiliki ikon pariwisata seperti museum yang ramai dikunjungi wisatawan. Berbeda jika kita ke negara maju seperti di Eropa. Mereka yang jadi andalan wisata adalah museum dan peninggalan sejarah. Mengunjungi museum tersebut memberikan wawasan dan pelajaran berharga tentang peradaban dan kemanusiaan.

Di Indonesia juga ada daerah yang mencoba mengembangkan wisata literasi yaitu Belitung. Di sana ada Museum Kata yang didirikan oleh Andrea Hirata. Di museum itu kita akan menemukan kata-kata inspiratif dari berbagai tokoh di dunia dan dari berbagai negara. Museum yang unik karena jauh dari hiruk pikuk kota. Ide yang kreatif karena unik dan menarik.

Bagaimana potensi wisata literasi di Sulsel? Jika kita cermati sejarah maka Sulsel memiliki warisan yang luar biasa dengan aksara lontara serta karya sastra I La Galigo yang diakui dunia. Tidak banyak daerah di dunia ini yang memiliki aksara sendiri. Daerah yang memiliki aksara sendiri berarti memiliki tradisi literasi dan intelektualitas yang tinggi.

Saatnya Sulsel melirik warisan peradabannya. Menggali tradisi intelektualitas yang bisa diangkat menjadi pelajaran bagi generasi sekarang. Jangan sampai warisan itu punah di tengah zaman yang terus berubah cepat.

Lebih hebat lagi jika Sulsel bisa mengangkat warisan peradaban tersebut menjadi wahana wisata literasi. Saya yakin ada banyak aktivis dan relawan serta anak muda kreatif yang siap menjadi penggerak. Tinggal dibutuhkan kebijakan dan keberpihakan dari pemerintah agar semangat yang mereka miliki bisa bersemai dan tumbuh menjadi karya nyata. Semoga kelak Sulsel tidak hanya mengandalkan wisata kuliner lemoterasi tapi juga wisata literasi. Amin.

Makassar, 24 September 2017

(Catatan diskusi di Tarbiyah UIN Makassar dgn Kanda Sulhan dan mahasiswa aktivis MEC Rakus)