Kegiatan

on 13 Juni 2019
  • Message of the Director

Ramadhan tahun ini sedikit 'spesial' karena bersamaan dengan Liga Champion Eropa. Sampai akhir Ramadhan sudah ada juaranya yaitu Liverpool setelah mengalahkan Tottenham 2-0. Seperti halnya Liga Champion,

kita semua pun di bulan Ramadhan sedang 'bertanding'. Bedanya jika di sepakbola cuma satu yang juara maka di Piala Ramadhan semua bisa menjadi juara asal memenuhi kriteria takwa sebagai tujuan kita berpuasa.     

Kejuaraan Ramadhan juga berbeda dengan Liga Champion. Liverpool yang meraih juara maka perjuangannya telah selesai. Predikat juara akan terus melekat selamanya. Berbeda dengan Liga Ramadhan. Perjuangan sesungguhnya justru baru dimulai selepas Ramadhan di 11 bulan berikutnya. Jadi hakikat dari juara Ramadhan adalah mereka yang dapat terus istiqamah dengan ketakwaannya di kehidupan pasca Ramadhan. 

Apa saja ciri-ciri orang yang bertakwa? Banyak indikator yang dicantumkan Allah dalam Al Qur’an. Para ulama mencoba menyederhanakannya.

Dari kata TAQWA ulama membagi empat ciri-ciri yang diambil dari huruf pada kata taqwa yaitu Tawadhu, Qana’ah, Wara’, dan Ikhlas. 

Tawadhu artinya rendah hati. Orang yang tawadhu’ jauh dari sikap sombong. Menurut Rasululullah ada dua ciri-ciri orang sombong yaitu merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Orang yang tawadhu akan jauh dari kesombongan karena dia sadar hakikatnya dia tidak memiliki apa-apa. Segalanya berasal dari Allah dan kembali kepada Allah. Saat lahir kita tidak membawa apa-apa dan saat meninggal pun kita tidak bawa apa-apa kecuali amal shaleh. 

Kesadaran bahwa segalanya berasal dari Allah dan dalam kendali Allah menjadikan kita memiliki sifat qana’ah atau merasa cukup atas segala nikmat yang Allah berikan. Merasa cukup bukan berarti tidak semangat mencari yang lebih banyak. Qana’ah berarti bersyukur atas apa yang ada sambil mencari apa yang belum ada. Qana’ah berarti tidak mudah iri dan dengki pada apa yang dimiliki oleh orang lain. Qana’ah berarti jauh dari sifat serakah dengan menghalalkan segala cara.    


Kesadaran bahwa segalanya milik Allah dan manusia hanya menerima titipan akan membuat kita menjalani kehidupan dengan penuh hati-hati atau Wara’. Mengapa? Karena apa yang dititipkan kelak  dipertanggungjawabkan. Sebelum bertindak kita akan selalu bertanya apakah tindakan ini sesuai dengan aturan Allah dan Rasul-Nya. Apakah pikiran, perkataan dan perbuatan kita tidak melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya. 

Pada akhirnya kesadaran bahwa segalanya milik Allah dan akan kembali kepada Allah,  segalanya dalam kendali Allah dan untuk Allah sebagai wujud ibadah membuat kita jadi ikhlas dalam segala aktivitas. “Ikhlas itu saat engkau mengerjakan sesuatu suasana hatimu sama saja apakah engkau dipuji atau dicaci”, demikian definisi dari seorang ulama’. "Mengapa suasana hatimu sama saja? Karena bukan pujian yang engkau harapkan. Tapi semua engkau lakukan karena mengharapkan penilaian dan ridha dari Allah SWT”. 

Semoga Ramadhan melatih kita menjadi manusia yang tawadhu’ (rendah hati), qana’ah (merasa cukup), wara’ (hati-hati) dan ikhlas. Itulah sang juara liga Ramadhan dan bekal terbaik untuk meraih kebahagiaan di dunia dan akhirat.