Kegiatan

on 23 Mei 2019
  • Message of the Director

Renungan 17 Ramadhan 1440 H

Bulan Ramadhan sungguh sangat semarak dengan aktivitas ibadah. Ada tiga jenis ibadah

yang sangat intens dilakukan yaitu shiyam (puasa), qiyam (shalat malam/tarawih) dan tadarusan (membaca Al Qur'an). 

Fenomena yang umum terjadi kaum muslimin terjebak pada kuantitas bukan kualitas khususnya qiyam dan tadarusan. Seperti tarawih ada yg tidak hanya mengejar rakaat yang banyak tapi juga yang cepat. Sampai ada yang shalat tarawih 23 rakaat dalam 7 menit. 

Demikian pula dengan tadarusan. Umumnya 1 juz sehari sehingga bisa 30 juz sebulan. Ada juga yang targetnya 5 juz sehari tapi cara baca yang tidak tepat (tartil). Mengejar kuantitas dan kecepatan. Akhirnya salah baca. 

Hati-hati, jangan hanya mengejar kuantitas. Mohon perhatikan juga kualitas. Jangan sampai tidak dapat apa apa selain hanya letih dan lelah. Shalat tanpa tuma'ninah dan ketenangan hanya gerakan fisik seperti olahraga. Mengaji tanpa cara baca yang benar malah bisa salah arti.

Bagaimana caranya agar shalat berkualitas? Shalatlah dalam keadaan sadar. Hati-hati, karena sangat sering dilakukan jadi otomatis saja. Takbir sampai salam tanpa ada kehadiran pikiran dan hati pada aktivitas shalat yang sedang dilakukan. 

Agar bisa khusyu maka hadirkan pikiran dan hati dalam shalat. Di dalam shalat ada pujian dan do'a selain gerakan. Maknai apa pujian yang diucapkan dan apa do'a yang dipanjatkan. Contohnya do'a antar dua sujud. Ada tujuh permintaan. Saat duduk antar dua sujud coba maknai dan hayati apa yang diminta. Dengan cara itu semoga bisa khusyu dalam shalat. 

Pada surat Al Fatihah ada pujian dan permintaan. Coba pahami dan hayati satu demi satu ayat yamg dibaca. Akan terasa ketenangan dalam jiwa jima khusyu membacanya. Sangat berbeda jika membacanya secara otomatis.

Tarawih yang dilakukan di malam bulan Ramadhan harapannya ada bekas di jiwa. Ini sejalan dengan arti kata tarawih. Untuk meraih itu butuh khusyu dan tenang bukan banyak dan cepat. 

Demikian pula tadarus yang 1 juz sehari. Membaca surat dari atasan saja bisa membekas di hati jika itu berupa pujian atau teguran. Apalagi suratnya dari Allah yang Maha Kuasa. Syaratnya tentu saja dipahami apa yang dibaca. Jika sulit karena tidak bisa bahasa Arab maka coba baca terjemahan tiap menjelang tidur sambil diresapi maknanya.

Puasa juga mari jaga kualitasnya. Bukan hanya menahan lapar dan haus tapi juga menjaga lisan, pandangan, pendengaran dari maksiat dan hal lain yang dilarang oleh Allah. Puasa yang mampu merasakan kehadiran Allah dalam kehidupan. 

Semoga kita dapat memgoptimalkan Ramadhan tahun ini dengan kuantitas dan kualitas ibadah yang maksimal. Apalagi menjelang 10 hari terakhir di mana terdapat lailatul qadar yang lebih mulia daripada 1000 bulan. Selamat berjuang.