Kegiatan

on 19 Mei 2019
  • Message of the Director

Renungan 13 Ramadhan 1440 H

Hari Sabtu 18 Mei 2019 di Wisma Kalla Makassar berlangsung Konser Kemanusiaan Sulsel Peduli Palestina.

Acara dimeriahkan oleh Melly Goeslaw dan siswa SD, SMP dan SMA Islam Athirah. Melly hadir menyanyikan beberapa lagu favoritnya seperti KCB dan Bunda.

Penggalangan dana seperti biasa dengan menawarkan paket bantuan dari 20 juta, 10 juta, 5 juta, 2.5 juta, 1 juta dan 0.5 juta. Alhamdulillah terkumpul dana lebih dari 418 juta rupiah.

Mengapa banyak yang tersentuh untuk membantu? Video paparan kondisi Palestina memang sangat memprihatinkan. Bayangkan, 7 dari 10 orang menderita kelaparan. Kekurangan air dan hanya 5% air yang bisa digunakan. Saat bulan puasa seperti sekarang mereka sudah bersyukur jika bisa berbuka puasa dengan air minum. Di saat yang sama kita di Makassar berlebih makanan buka puasa bahkan air minum dalam kemasan gelas belum habis sudah dibuang. 

"Nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan". Ayat dalam surat Ar Rahman yang diulang  27 kali sangat cocok dan dipilih panitia jadi pembuka acara. Begitu banyak nikmat yang Allah berikan dibandingkan dengan saudara kita di Palestina. Namun sayang terkadang nikmat itu dianggap biasa saja atau malah "didustakan" dengan perilaku mubazir.

Lihatlah keseharian di masjid bagaimana penggunaan air untuk berwudhu. Bisa jadi lebih banyak yang terbuang daripada yang terpakai dengan cara membuka kran air secara penuh. Padahal di Palestina begitu sulitnya mendapatkan air bersih apalagi air minum. Belum lagi listrik yang hanya mengalir 4 jam sehari. Di Makassar 24 jam non stop listrik tersedia. Teringat saat terjadi black out karena kerusakan jaringan PLN. Saat itu karena tidak tahan kepanasan  banyak warga yang pindah ke hotel. Palestina hampir tiap hari black out.


Bulan Ramadhan banyak kegiatan pengumpulan dana bantuan untuk menolong warga Palestina. Ini yang banyak dilakukan oleh lembaga kemanusiaan seperti ACT, Rumah Zakat, Dompet Dhuafa dan lainnya. Momentum Ramadhan saat pahala dibalas berlipat ganda menjadi motivasi tambahan.

Saat ikut di acara itu saya merenung apakah benar ini untuk menolong orang Palestina saja? Atau sebenarnya ini untuk menolong diri sendiri? Memang tampaknya membantu orang lain. Tapi hakikatnya membantu diri sendiri menjadi hamba yang bersyukur.

Selama ini Allah memberi nikmat yang banyak tapi rasanya biasa saja. Melihat gambaran kondisi Palestina yang demikian memprihatinkan, tumbuh rasa syukur atas nikmat yang selama ini Allah berikan.

Memberi juga membantu diri berempati dan menolong sesama. Selama ini kita bahagia karena menerima. Ternyata memberi itu lebih membahagiakan. Ada rasa bermakna karena bermanfaat.

Salah satu sifat dasar manusia yaitu egois. Inginnya diperhatikan. Juga inginnya mendapatkan bukan memberikan. Jadinya kadang kikir dan hitung-hitungan. Program membantu Palestina ini juga dapat membantu diri sendiri untuk lepas dari sifat kikir. Memberi tanpa mengharap kembali.

Pada akhirnya semua amalan kita di dunia sebagai bekal di akhirat. Jika infak yang dikeluarkan ikhlas karena Allah maka itu akan menjadi jalan menuju surga dan meringankan kita saat kelak hisab harta di akhirat. 

Mari optimalkan ramadhan ini dengan menjadi manusia yang dermawan. Mari meniru Rasulullah yang dermawan dan semakin dermawan di bulan Ramadhan. Dermawan untuk menolong orang lain dan juga menolong diri sendiri agar pandai bersyukur, berempati, peduli, tidak kikir, meraih pahala dan meringankan hisab harta menuju surga.