Kegiatan

on 18 Mei 2019
  • Message of the Director

Renungan 10 Ramadhan 1440 H

Anak yang sedang belajar berpuasa terasa sangat berat terutama di puasa pertama awal Ramadhan. Sampai jam 15 mungkin masih kuat. Masuk sore hari jam 17 sudah tidak kuat. Sudah menangis ingin makan dan minum.

Sebagai orang tua ada dua pilihan. Apakah membiarkannya makan dan minum atau memotivasinya untuk bersabar 1 jam lagi sampai waktu buka puasa. 

Menentukan pilihan tindakan bisa karena "sayang" atau "kasihan". Jika karena "kasihan" maka diperbolehkan makan dan minum. Kasihan membuat kita tidak tega melihat anak menderita atau merengek untuk makan. Berpikirnya cenderung jangka pendek. 

Beda dengan cara pandang "sayang". Lebih berpikir jangka panjang. Tindakannya memotivasi anak untuk bersabar menunggu buka puasa. Sayang tinggal 1 jam lagi. Ini momentum pembelajaran untuk berjuang sampai akhir. Tidak menyerah di ujung perjalanan. Jika berhasil sampai akhir maka ada kenikmatan tersendiri dan menjadi pengalaman pertama bahwa dia bisa berpuasa. Jika hari pertama berhasil maka hari selanjutnya akan lebih mudah. 

Hal ini juga yang sering terjadi dalam pola asuh anak. Ada dua pola yaitu "kasihan" dan "sayang". Jika aliran "kasihan" yang dipakai maka anak cenderung dimanjakan. Segala keinginannya dipenuhi meskipun belum masanya.

Masih balita sudah punya smartphone. Awalnya kelihatan positif karena anak ada aktivitas. Tapi lama kelamaan dia kecanduan dan kurang bergerak yang berdampak negarif kepada fisik dan mental. 

Bisa juga karena "kasihan" maka segala tindakannya ditolerir karena alasan masih kecil. Atau tidak ditugaskan untuk mengerjakan aktivitas pribadi tertentu secara mandiri. Segalanya dibantu apalagi jika anak memang punya asisten khusus.

Beberapa tahun lalu ada kasus anak SMA belum bisa pakai baju, kaos kaki dan sepatu sendiri karena selama ini selalu dipakaikan. Akhirnya saat dia lulus SMA dan harus pindah kota untuk kuliah maka neneknya pun ikut pindah bersamanya agar ada yang membantunya. 

Berbeda jika cara pandangnya karena "sayang". Sejak kecil anak-anak diajari untuk self help atau membantu dirinya sendiri. Belajar mandiri seperti makan sendiri, buang air kecil dan besar dan membersihkannya sendiri (toilet training). Pakai baju, kaos kaki dan sepatu sendiri. 

Pada tahap awal itu sangat sulit dan butuh kesabaran. Jika tidak sabar maka akan muncul rasa kasihan akhirnya dibantu lagi semuanya. Maka gagallah proses belajar mandiri. Tapi jika orang tua berpikir jangka panjang dan ingin anaknya kelak mandiri maka tidak dibantu tapi dilatih. Hal yang biasa jika makannya masih belepotan dan makanan banyak yang tercecer. Tapi lama kelamaan dia akan bisa makan dengan bersih dan apik.

Demikian pula saat anak menghadapi masalah dengan temannya. Latih dia untuk secara ksatria menghadapinya. Jangan langsung dibela atau dibantu meskipun dia benar. Bantuan itu bisa dipersepsi lain. Merasa ada andalan dan pembela. Bisa jadi saat dia yang salah tidak mau minta maaf. 

Akhirnya mendidik anak dengan paradigma "sayang" akan membantu anak untuk memiliki keterampilan hidup (life skill). Mampu membantu (self help) dan mengelola dirinya sendiri (personal skill). Jika itu dia miliki maka dia akan mandiri, siap menghadapi kondisi yang tidak ideal, mampu  membedakan keinginan dan kebutuhan dan bersabar terhadap berbagai keinginan yang tiada batasnya. 

Bulan Ramadhan hadir dengan berbagai aktivitas ibadah di dalamnya. Mari manfaatkan untuk melatih anak-anak kita untuk mengelola dirinya. Semoga berhasil.