Kegiatan

on 04 Februari 2019
  • Message of the Director

Hari Sabtu 2 Februari 2019 lalu di Nipah Mall Makassar berlangsung Talkshow bertemakan "Mengoptimalkan Potensi Anak". Pembicara utusan dari Dinas Pendidikan Sulsel,  Kepala Dinas Pendidikan Kota Makassar

dan saya selaku Direktur Athirah. 

Ketiga pembicara sepakat bahwa anak harus mengembangkan potensi asli dirinya. Tidak boleh ada 'dendam pribadi' orang tua. Contohnya saat SMA orang tua ingin masuk kedokteran tapi gagal. Akhirnya anak yang diharapkan menjadi penebus kegagalannya.

Anak-anak harus berkembang dengan bahagia, tidak terpaksa. Bukankah menurut Daniel Goleman dalam buku Kecerdasan Majemuk bahwa ada 8 jenis kecerdasan manusia yaitu spasial, linguistik, intrapersonal, musikal, natural, interpersonal, logika matematika, dan kinestetik. 

Tugas pertama orang tua dan guru yaitu mengenali potensi anak dengan tepat dan akurat. Di Sekolah Islam Athirah hal ini dilakukan dengan memberikan tes sidik jari kepada semua siswa baru dari TK sampai SMA setiap tahun. Laporan hasil tes disampaikan ke orang tua via seminar dan konsultasi. 

Selanjutnya tugas kedua orang tua dan sekolah yaitu menfasilitasi agar potensi anak berkembang dengan optimal. Caranya sekolah menyediakan beragam aktivitas untuk melayani semua jenis kecerdasan. Di Athirah sendiri ada ekskul olahraga, olimpiade, drama, group band, penelitian ilmiah, majalah, bahasa asing, village observation, kegiatan sosial dan lainnya selain kegiatan kurikuler. Diharapkan kegiatan itu dapat mengeksplorasi dan mengelaborasi bakat anak. 

Tugas ketiga yaitu mengapresiasi sesuai bakat. Prinsipnya semua anak dapat jadi juara sesuai bakatnya. Mereka bersaing dengan dirinya sendiri bukan dengan orang lain. Untuk itu meranking siswa yang hanya berdasarkan nilai akademik atau menggabungkan semuanya jadi nilai rata-rata tidak lagi sesuai.

Jika merujuk ke kecerdasan majemuk maka ada 8 jenis bidang juara yang bisa diberikan sebagai apresiasi. Jika tiap bidang terdapat 3-4 jenis kategori maka semua anak dalam satu kelas bisa dapat penghargaan. Dampaknya semua merasa dihargai usaha dan pencapaiannya. 

Satu hal yang menarik yaitu seluruh pembicara sepakat bahwa potensi iman dan taqwa serta akhlak mulia anak harus menjadi prioritas. Mencerdaskan hati melalui pembiasaan ibadah (shalat 5 waktu dan sunnah, membaca Al Qur'an, puasa, dsb), amal shaleh (sedekah, sosial projek, dsb) yang berulang dan kontinyu. Itu diharapkan dapat membangun jiwa anak sebagaimana amanah lagu Indonesia Raya. 

Mendidik anak di keluarga dan di sekolah juga sangat ditentukan oleh pendidiknya yaitu guru dan orang tua. Program dan kurikulum akan sia-sia jika pendidiknya tidak kompeten. Ibaratnya resep masakan kelas Internasional tapi juri masaknya tidak profesional. Oleh karena itu guru dan orang tua harus senantiasa membina diri sebagai teladan bagi anak. 

Sebagai penutup setelah berusaha dengan maksimal jangan lupa berdo'a kepada Allah SWT sebagai Penguasa alam semesta. Allah yang memberikan hidayah, manusia hanya berusaha. Jika menghadapi kendala dalam mendidik anak, mohonlah pertolongan Allah. Panjatkan di tiap doa selepas shalat agar diberi anak yang shaleh dan shalehah. Semoga ada jalan keluar tak terduga.

Makassar, 4 Februari 2019

Syamril