Kegiatan

on 07 Januari 2019
  • Message of the Director

Masruri M.Pd Direktur Ummi Foundation mengemukakan 4 ciri-ciri tikungan tajam sekolah. Jika ciri-ciri itu dimiliki maka ibarat kendaraan perlu memperlambat kendaraan dan menundukkan badan agar tidak terpental. 


Apa saja keempat ciri-ciri itu? 1. Besar secara kuantitas. 2. Masih banyak mengandalkan prestasi individu. 3. Masih banyak masalah. 4. Adanya pergantian pimpinan. Mencermati kondisi Athirah keempat ciri-ciri itu ada. Mari kita lihat bersama-sama.

Saat ini Athirah di tiga lokasi dan 10 unit jumlah siswa 2952 orang dan guru serta karyawan 501 orang. Jumlah yang sangat besar untuk skala Indonesia Timur. Namun kualitas rata-rata keseluruhan di luar bone masih belum memuaskan.  

Berdasarkan rata-rata nilai UNBK SMA se Sulsel peringkat untuk IPS Athirah Bone peringkat 1. Athirah Kajol peringkat 14. Athirah  Bukit Baruga peringkat 19. Untuk IPA Bone peringkat 2. Kajol peringkat 21. Bukit Baruga peringkat 33. Ini menunjukkan secara kualitas rata rata masih perlu ditingkatkan.

Sangat berbeda dengan capaian prestasi individu di lomba Olimpiade. Berita berita di koran Alhamdulillah Athirah kembali dikenal sebagai sekolah para juara Olimpiade. Tentu ini sebuah pencapaian yang bagus. Tapi itu tidak menggambarkan mutu sekolah yang sebenarnya. Makanya saat Athirah masih banyak mengandalkan prestasi individu, ia berada di tikungan tajam.

Dari hasil Employee Engagement Survey dan Faktor Strategik Pendidikan menunjukkan masih banyak masalah yang ada di Athirah. Mulai dari manajerial, SDM, fasilitas dan lain sebagainya. Seiring dengan terjadi pergantian di level direktur dan kepala sekolah maka keempat ciri di atas terpenuhi lengkap.

Bagaimana menghadapi itu semua? Sebelum mencari jalan keluar (way out) kita perlu jalan ke dalam (way in). Ada 5K yang bisa dibangun ke dalam yaitu Kesadaran, Keterbukaan, Kesungguhan, Kebersamaan, Kesetiaan.

Kesadaran terkait dengan niat melakukan sesuatu bukan karena terpaksa tapi sukarela. Dibangun dari renungan yang mendalam bahwa apapun yang dilakukan di Athirah merupakan bagian dari ibadah kepada Allah SWT. Adanya masalah dipandang sebagai ujian yang harus dihadapi.

Keterbukaan dilakukan untuk mencari "apa yang salah" bukan "siapa yang salah". Melalui dialog terbuka dengan semua pihak diharapkan dapat ditemukan akar masalahnya yang jadi dasar dalam menyusun program kerja.

Selanjutnya apa yang sudah direncanakan sebagai program kerja dikerjakan dengan penuh kesungguhan, kebersamaan dan kesetiaan. Gunakan siklus PDCA yaitu Plan, Do, Check dan Action. Monitoring dan evaluasi terus dilakukan secara berkala dan disiplin.

Tim Manajemen Athirah yang baru bersama pimpinan unit sekarang ini sedang menyusun program kerja sesuai standar Kalla Group. Berawal dari Strategy Map yang disusun dari hasil pemetaan masalah (problem map). Selanjutnya setiap strategy dibuat beberapa Key Performance Indicator (KPI) yang dilanjutkan dengan Strategy Initiative, Time Schedule dan Person In Charge PIC). Semoga dengan langkah-langkah di atas dapat membawa Athirah melewati tikungan tajam sebelum kembali tancap gas saat menemukan jalan yang lurus.

Akhirnya sebagai motivasi bersama mari renungi firman Allah di surat Al Insyiroh 5-8 : " maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Maka apabila engkau telah selesai (dari sesuatu urusan), tetaplah bekerja keras (untuk urusan yang lain). Dan hanya kepada Tuhanmulah engkau berharap".