Kegiatan

on 05 September 2017
  • Message of the Director

Konon kakek nenek saya dulu menikah karena dijodohkan. Sebelumnya tidak saling kenal. Lama kelamaan dari pergaulan sehari hari tumbuh kecocokan dan cinta pun akhirnya bersemi. Lalu punya anak. Satu persatu anaknya menikah. Lalu punya cucu. Cucunya pun menikah dan punya anak juga. Sampai kemudian kakek nenek saya meninggal dunia.

 Dari kisah di atas dapat ditemukan ada 5 level cinta. Level pertama yaitu cinta formal. Bisa jadi terpaksa. Tapi kemudian seiring berjalannya waktu masuk ke level kedua yaitu cinta sukarela karena saling cocok. Kemudian seiring waktu naik ke level ketiga cinta produksi atau hasil berupa keturunan. Setelah anak dididik sampai akhirnya semua mandiri maka masuklah level keempat yaitu cinta kaderisasi. Lebih lanjut lagi anaknya punya anak dan juga berhasil dibina dengan baik menjadi mandiri. Itulah level kelima. Cinta generasi. 

Kalau dicermati ternyata level kepemimpinan juga sama, ada lima level. Sesuai dengan buku Maxwell Five levels of leadership. Level pertama menjadi pemimpin karena Surat Keputusan atau Surat Tugas. Harus diikuti walaupun terpaksa. Seiring waktu antara pemimpin dengan timnya mulai saling kenal dan tumbuh kecocokan. Maka naiklah ke level dua. Diikuti dengan sukarela. Tapi itu tidak cukup. Lama kelamaan pemimpin diharapkan memberi bukti bukan hanya janji. Harus ada pencapaian atau hasil atau prestasi. Masuklah level ketiga cinta produksi.

Setelah sekian lama dan pemimpin sudah akan habis masa jabatannya maka diharapkan naik ke level keempat yaitu menyiapkan pelanjut atau kader. Lebih jauh lagi bukan hanya pelanjut langsung tapi juga pelanjut sampai jangka panjang. Disini dibutuhkan sistem kaderisasi yang berkelanjutan. Inilah level kelima. 

Di setiap level ada ujiannya. Biasanya mulai banyak yang gagal di level ketiga karena tidak mencapai hasil yang diharapkan. Ada juga yang sudah mencapai target tapi tidak bisa menyiapkan kader. Akhirnya terkadang dia jadi pemimpin abadi dalam arti tak tergantikan. Seolah olah bagus padahal tidak bagus bagi pertumbuhan organisasi ke depan. Karir orang orang jadi tidak bergerak. Akhirnya satu persatu orang orang terbaik keluar atau menjadi apatis. 

Untuk menghindari itu organisasi harus menyiapkan dengan baik para kadernya. Dimulai dengan membuat talent pool yaitu mencari bibit bibit terbaik. Kemudian dibina dalam leadership program melalui pelatihan, pendampingan dan penugasan. Coaching dan mentoring. Dimonitor dan evaluasi untuk memastikan kesiapan jadi pengganti. Semoga saat dibutuhkan mereka sudah siap. 

Makassar, 15 Agustus 2017