Kegiatan

on 18 Februari 2021
  • Kegiatan
  • SMP Boarding School Bone

Berbicara soal pendidikan, tidak ada yang meragukan usaha dua bocah Indonesia yang saat ini ada di tanah rantau di negeri Jiran. Muhammad Ramadan dan Try Adrian Putra. Putra bangsa yang orang tuanya berada di kawasan perkebunan kelapa sawit di Sabah, Malaysia tersebut ambil bagian bersama 53 anak-anak buruh migran lainnya mengikuti seleksi daring pada hari Kamis (18/2) untuk meraih beasiswa penuh di SMP Islam Athirah Bone .


Upaya mereka yang pantang menyerah untuk mengenyam pendidikan terekam jelas pada sebuah kutipan sederhana tetapi penuh makna. Foto yang diambil guru yang mendampingi mereka saat itu menunjukkan bagaimana mereka menapaki sisa tanah kawasan perkebunan sawit yang masih bisa dijangkau signyal telepon seluler. 

Tidak seperti teman-teman sebayanya di Community Learning Centre (CLC) yang lain, yang masih bisa berada di dalam ruangan yang terjangkau oleh jaringan internet. Dua siswa yang belajar di CLC Malacca ini harus bersusah payah melacak jaringan yang masih tersisa dan mendirikan tenda di lokasi tersebut agar terhindar dari panas dan hujan saat mengikuti tes penerimaan siswa baru jalur beasiswa di SMP Islam Athirah Bone. 

Berbekal laptop dan kertas lembar jawaban, mereka mulai asyik menjawan pertanyaan demi pertanyaan di dalam pengawasan mata kamera seluler sang guru pendamping. Nun jauh di seberang sana, para panitia seleksi ikut memantau melalui koneksi aplikasi zoom guru yang mendampingi mereka.

Semangat pantang menyerah para siswa ini mewakili puluhan anak buruh migran lainnya yang menyimpan asa untuk dapat kembali ke Indonesia dan mengeyam pendidikan di sana. Berkat  Yayasan Sabah Bridge, siswa sekolah dasar yang tersebar di 25 pusat belajar komunitas (CLC) yang ada di kawasan Sabah dan Sarawak Malaysia mengikuti seleksi penerimaan siswa baru yang digelar SMP dan SMA Islam Athirah Bone.

Sebagaimana yang disampaikan penanggung jawab Seleksi SMP Islam Athirah Bone dari Sabah Bridge, Umam Muzaki, S.PdI,  Yayasan Sabah Bridge memiliki kata seruan " kembalilah "sebagai seruan  gerakan untuk mengubah sebuah keadaan dimana pendidikan tidak dianggap sebagai solusi untuk permasalahan siklus perburuhan yang berlangsung puluhan tahun baik legal maupun ilegal khususnya dia area perkebunan kelapa sawit Sabah, Sarawak dan Johor Bahru Malaysia.

Melalui visi untuk mengembalikan anak anak Migran Indonesia ke pangkuan ibu Pertiwi dan menyiapkan generasi terdidik ,cerdas ,unggul, berkahlak mulia, dan mandiri melalui Misi untuk memfasilitasi anak - anak tersebut melanjutkan pendidikan dengan beasiswa dan melakukan pengawasan serta pembinaan .

Nurholis_Tim Web Athirah