Kegiatan

on 17 Oktober 2020
  • Kegiatan
  • SMA Kajaolalido

“Hai manusia, sesungguhnya kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan  dan menciptakan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal, susungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu adalah orang-orang yang paling bertaqwa diantara kamu”.

(Q. S. Al-Hujurat : 13)

Di dalam agama Islam, sangat jelas memberikan penjelasan yang akurat bahwa manusia sejak diciptakan dalam bentuk yang berbeda-beda, kembar identik sekalipun pasti ada titik perbedaan. Al-Hujurat;13 menegaskan perbedaan itu, bahwa kita dicptakan dalam keadaan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, yang artinya kita hidup dalam keadaan keberagaman namun tetap saling menghargai satu dan yang lainnya. Salah satu bentuk keberagaman yang dibahas dalam agama Islam adalah kebaragaman dalam beragama, dimana Islam mempersilahkan penganut agama lain untuk menganut agamanya masing-masing.

Dilingkungan pendidikan khususnya dunia sekolah selain dilingkungan keluarga, adalah tempat yang tepat untuk meletakkan  Dasar-dasar pemahaman keberagaman. Setiap peserta didik punya potensi dan kompetensi yang berbeda-beda, dan hal itu harus dihargai sebagai suatu anugerah dari sang maha pencipta kepada hamba-hambanya. Penanaman sikap-sikap saling menghargai, menghomati, dan menghargai perbedaan adalah diktum yang sangat penting diusia mereka yang lagi bertumbuh dan berkembang dengan pesatnya.

Realitas yang dihadapi saat ini, ada kecenderungan siswa tertentu atau siswa dalam kelompok tertentu terkadang memaksakan kehendaknya kepada siswa lain, dan siswa lain itu merasa tidak nyaman dengan kondisi itu. Pelaku perundungan biasanya menggunakan agresi untuk menyakiti orang lain secara fisik, verbal, dan mental. Hal ini diperkuat Sullivan bahwa perundungan merupakan perilaku agresif yang dilakukan secara sengaja dan sadar oleh individu atau sekelompk pelaku yang lebih kuat terhadap individu lain atau kelompk lain yang lebih lemah, dilakukan dalam bentuk verbal, fisik, psikologis, seksual dan relasional yang terjadi dalam waktu yang cukup panjang  dan berulang.

Beberapa bentuk perundungan yang sering terjadi yaitu:

1.Melukai secara fisik

2.Melakukan pemalakan

3.Menyisihkan seseorang dari pergaulan

4.Menyebarkan gosip dan membuat julukan yang bersifat ejekan

5.Mengerjai sesorang untuk mempermalukannya

6.Mengintimidasi atau mengancam korban.

Akibat dari perundungan yang dialami seseorang, maka dapat berakibat negatif secara fisik dan mental seperti:

1.Merasa terisolasi dari pergaulan

2.Depresi

3.Pemalu dan penyendiri

4.Rendahnya kepercayaan diri

5.Terpikir baheak bisa-bisa bunuh diri

6.Merosotnya prestasi akademik.

Kondisi-kondisi di atas tidak  menutup kemungkinan terjadi disekitar kita tanpa kita ketahui, untuk itu sebabagai bangsa yang sangat terkenal dengan bangsa yang ramah, tentram kertaraharja, seharusnya harus pro aktif melakukan pendekatan membongkar pelaku termasuk membantu korban untuk bangkit kembali. Tindakan perundungan di dunia sekolah sangat rentang terjadi, guru sebagai orang tua di sekolah harus juga pro aktif melakukan sosialisasi-sosialisasi  pemahaman tentang dampak negatif dari perundungan. Disisi pelaku ketika ini dibiakan, maka ketika ia besar ia menjadi preman, dan bagi korban ketika ia besar akan menjadi traumatik berkepanjangan.

Menurut Baso Marannu dkk, mengemukakan bahwa ada beberapa tips pencegahan perundungan yaitu 1)jangan bereaksi saat di rundung karena perundung biasanya merasa senang jika melihat korbannya marah, sedih, atau menangis, 2)Jangan dekati perundung dengan menjaga jarak kamu akan terhindari dari niat jahatnya, 3)Jadilah lebih pintar dari tukang perundung, maksudnya yang suka melakukan perundungan memiliki kecerdasan dibawah rata-rata, dan mereka pasti lebih minder jika kamu bisa lebih pintar dari mereka, 4)Ikutlah belajar bela diri karena bela diri dapat meningkatkan kepercayaan diri dan pasti kamu lebih bisa menjaga dirimu, 5)Jangan pernah membalas rundungan mereka karena hal ini hanyalah akan memperkeruh suasana  dan membuat kamu kehilangan kontrol.

Sekolah dengan legalitas formal yang ia miliki punya kekuatan untuk menengahi dan menyelesaikan perundungan ini. Tata tertib harus ditegakkan, karena sekolah yang tegak dan disiplin harus mengedepankan tata tertib. Untuk itu sekolah harus memperkuat barisan bagi para guru sehingga mampu terdepan menjadi corong pemotivator bagi siswa untuk tetap dijalan yang benar. Begitu juga di hadapan para siswa, harus dibekali sosialisasi pemahaman tentang pentingnya saling harga-menghargai, bahu-membahu dan menyatukan tekad untuk tidak melakukan perundungan, bahkan kalau perlu bisa dilakukan pernyataan komitmen bersama satu sekolah berupa deklarasi sekolah anti perundungan. Dengan cara-cara ini turut membantu terwujudnya budaya damai di sekolah menuju Sekolah ramah anak.


Penulis : Tawakkal Kahar