Kegiatan

on 02 Juli 2017
  • Message of the Director

Di depan lift saat akan menuju masjid lt 8 tiba-tiba pak JK bertanya "berapa gaji guru?" Saya jawab "standar di atas PNS". Pak JK terus mengejar "berapa jumlahnya?" Saya pun jawab "variatif mulai dari sekian sampai sekian. Pak Khasan menambahkan "ada guru yang sudah sampai sekian". Pak JK berpesan ke bu Ima "tolong dinaikkan". Ini salah satu hal yang dipesankan oleh JK yaitu perhatikan kesejahteraan guru. Tentu sejahtera lahir dan batin.  Kata kuncinya guru bekerja hendaknya dengan perasaan bahagia dan dan kehidupannya sejahtera.

Dari kata bahagia dan sejahtera ada 4 kombinasi kondisi guru atau karyawan. Idealnya bahagia dan sejahtera. Ini yang pasti diharapkan. Paling tidak ideal yaitu tidak bahagia dan tidak sejahtera. Tentu ini yang harus dihindari, naudzu billahi min zalik. Ada dua lagi yang tersisa yaitu "bahagia tapi tidak sejahtera" dan "sejahtera tapi tidak bahagia". Dari dua kondisi ini mana yang Anda pilih? Mari kita bahas lebih lanjut.


Kita bahas dulu yang "sejahtera tapi tidak bahagia". Apakah ini mungkin terjadi? Saya sebagai bagian SDM di perusahaan menemukan fenomena ini di beberapa karyawan level atas. Penghasilan sangat besar karena bukan hanya dari gaji pokok dan tunjangan yang umum tapi juga dari prestasi penjualan. Intinya mereka sudah sejahtera. Tapi apakah pasti bahagia? Ternyata tidak. Ada beberapa dari mereka yang sedang galau. Jika ada peluang lain ingin segera berhenti bekerja. Ingin membuat usaha sendiri. Mengapa? Kerjaaanya penuh dengan tekanan sehingga hidupnya stress. Jadi mereka adalah kelompok karyawan yang "sejahtera tapi tidak bahagia". Tidak bahagia bukan karena kurang materi. Tapi tidak bahagia karena kondisi pekerjaan yang tidak sesuai dengan passion dan jiwa.

Selanjutnya "tidak sejahtera tapi  bahagia". Apakah ini bisa terjadi? Saat silaturrahim ke rumah Pak Abdullah Syuaib di Bandung, pengurus Al Irsyad yang mengelola banyak sekolah, beliau bercerita tentang guru-guru di Al Irsyad Purwokerto. Gaji mereka masih ada yang di bawah 2 juta untuk guru bukan honorer. Namun gurunya sangat luar biasa. Mereka menjiwai pekerjaannya. Mereka bekerja sepenuh hati. Apa buktinya? Kondisi siswa yang luar biasa. "Saya pernah mengamati khusus saat anak-anak SD datang ke masjid. Mereka masuk dengan tenang, tertib, shalat sunnat sampai selesai shalat wajib lalu keluar masjid. Semua berjalan dengan tertib.

Apa hubungannya kondisi itu dengan kebahagiaan guru? Kata dia "tidak mungkin siswa seperti ini kalau gurunya tidak mendidik dengan sepenuh hati. Hanya guru yang betul-betul bahagia dalam mendidik yang dapat menghasilkan siswa seperti ini. Pesan dari guru bukan semata dari ucapannya tapi juga dari jiwanya yang terpancar dan terlihat setiap hari. Siswa merasakan itu sehingga mereka melakukan dengan senang hati apa yang gurunya perintahkan".

Tentu kita tidak ingin hanya "bahagia tidak sejahtera" tapi ingin yang "bahagia dan sejahtera". Kuncinya perlu kerja sama karyawan dan organisasi. Bahagia berawal dari adanya jiwa dalam bekerja. Adanya misi dalam aktivitas, tidak hanya mencari gizi saja. Karyawan dan organisasi harus punya visi dan misi yang selaras. Bagi dunia pendidikan tentu visi dan misi yang utama adalah mencerdaskan kehidupan bangsa, mewujudkan generasi khairu ummah (bangsa terbaik). Membangun jiwa dan badan. Menyiapkan generasi masa depan yang siap memimpin dunia menuju masyarakat marhamah (loving society) yang sejahtera dan bahagia dunia akhirat.

Jika visi dan misi itu yang diemban maka insya Allah rezeki akan datang. Organisasi akan terus tumbuh dan berkembang sehingga pelayanan terus menjadi lebih baik. Akibatnya pelanggan bertambah dan tentu kesejahteraan karyawan dan pemilik juga akan meningkat. Jadi sejahtera itu akibat dari karyawan yang bekerja dengan bahagia.

Semoga dalam waktu yang cepat karyawan yang bahagia dan sejahtera di Athirah dapat segera terwujud. Mari sama sama mewujudkannya dengan kerja keras, kerja cerdas dan kerja ikhlas. Semoga Allah meridhoi.

Bandung, 2 Juli 2017