Berita

on 10 Februari 2018
  • Message of the Director

Aku tak menyangka secepat ini menyandang sebutan orang tua.

Ayah bunda adalah panggilan oleh putra putriku. Di usia yang tergolong muda, sudah harus menjadi teladan bagi keduanya. Apakah di awal saat kami membina rumah tangga, ada sekolah yang khusus mengajari orang tua untuk mendidik anak? 

Ternyata tidak ada. Maka kami berburu informasi melalui pengalaman orangtua terdahulu, rajin mengakses berita, bahkan harus rela berlangganan majalah dan tabloid. Apakah yang aku lakukan itu sudah cukup mewakili pengetahuanku menjadi orangtua?

Jawabannya masih tidak.

Hari berganti, tahun berlanjut, aku membesarkan dan mendidik putra-putriku sesuai pengalaman yang aku sampaikan sebelumnya. Selain itu, aku sering mengingat cara ibuku ketika mendidik aku saat kumasih kecil. Nampak banyak perbedaan dari segi karakter dan tutur kata. Keinginan terbesarku saat ini ialah menjadikan keduanya anak yang saleh dan salehah.

Menjelang usia sekolah, aku melihat beberapa kejanggalan pada diri putra putriku. Mereka cenderung senang meniru hal-hal aneh yang menurutku itu tak pantas. Apalagi di lingkungan kami sangat kental dengan budaya setempat. Setiap saat kami bahkan berperilaku tegas untuk  menunjukkan penolakan terhadap perilakunya. Terkadang aku melelehkan air mata, mengapa begitu sulit mendidik putra putriku sesuai keinginanku sendiri. Rasanya aku tak sanggup menuruti keinginan mereka. Hingga karena ketaksanggupanku itu, aku sering berkeluh kesah ke teman. Dia menyarankan aku hanya untuk bersabar.

Suatu ketika, aku diajak oleh seorang teman untuk mengikuti tausiyah di sebuah kegiatan pengajian. Mungkin ini hidayah, kebetulan saat itu, ustaz membahas tentang bagaimana cara mendidik anak. Selama satu jam, aku mengikuti pengajian tersebut hingga selesai. Sangat menyentuh dan aku bersyukur telah menemukan solusi dalam mendidik anak. Dalam tausiyahnya, ustaz menyampaikan bahwa didiklah anakmu sesuai zamannya, karena kamu hidup di zaman tersebut, maka sesuaikan dengan cara mendidikmu. 

Sejak saat itu, telah banyak perubahan yang aku lakukan di kehidupan sehari-hari dalam mendidik putra-putriku. Mulailah mereka juga menunjukkan perubahan sikap. Karena setiap saat, aku selalu menjadi teman mengobrol dan teman curhatnya, bahkan sering mendengar cerita lucunya. Ternyata, mereka butuh orang untuk mereka jadikan sosok teman. Alhamdulillah, aku bersyukur untuk semua ini

Mendidik anak itu susah susah gampang. Jika engkau tak sanggup maka di keluargamu akan terlahir generasi pembangkang. Bukankah rumah adalah surga bagimu. Maka dari itu orangtualah yang bisa menjadikan surga itu.