Kegiatan

on 23 September 2021
  • Message of the Director

Pandemi covid masih terus berlanjut meskipun jumlah yang terpapar virus semakin  berkurang. Beberapa daerah sudah masuk zona hijau.

Makassar masih zona oranye. Kebijakan pemerintah, bagi wilayah yang masuk zona hijau, kegiatan ekonomi semakin terbuka dan belajar mengajar di sekolah mulai dilakukan secara terbatas. Bagi daerah yang masih zona oranye seperti Makassar kegiatan belajar mengajar belum dibuka. Tapi aktivitas keramaian seperti mall sudah dibuka secara terbatas. 

Salah satu penyebab turunnya jumlah penderita covid yaitu tingkat vaksinasi. Contohnya Jakarta yang tingkat vaksinasinya telah melebihi 70%. Telah terbentuk herd immunity atau kekebalan secara komunal. Akibatnya virus covid tidak bisa lagi berpindah dan berkembang secara massif sehingga jumlah kasus semakin kecil. 

Tingkat vaksinasi di Kota Makassar menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Makassar pada acara Covid Webinar Series ke-12 Kalla Group dan berbagai mitra (Satgas Covid IDI, Unhas, Tribun Timur, Wahdah Tv, Athirah Tv, UMFA Channel) telah mencapai angka 52%. Makassar menduduki peringkat ke-8 Nasional. Meskipun secara keseluruhan tingkat vaksinasi Sulsel belum sampai pada angka 20% karena vaksinasi di daerah di luar Kota Makassar masih sangat rendah.

Apa kunci vaksinasi di Makassar jauh lebih tinggi dari daerah lain? Hal ini disebabkan karena banyaknya partisipasi dari berbagai pihak dengan mengadakan vaksinasi massal. Salah satu yang menonjol yaitu Kalla Group yang mengadakan vaksinasi massal di Mall Nipah, MARI, Athirah dan Bugis Water Park. Juga vaksinasi di beberapa Perguruan Tinggi seperti Unhas, UMI, Unifa, STIBA, serta Masjid Al Markaz.

Tingkat vaksinasi yang tinggi juga karena kesadaran masyarakat untuk ikut vaksin semakin membaik. Hal ini disebabkan karena sosialisasi tentang vaksin yang massif dari pemerintah, akademisi, ulama dan relawan sehingga masyarakat semakin paham manfaat vaksinasi. Masyarakat juga sudah dapat memilah mana informasi tentang vaksin yang hoax. 

Pada pelaksanaan vaksinasi massal Panitia Pelaksana terdiri atas anggota TNI, Polri, dan karyawan swasta atau PNS serta Ormas dan LSM. Seluruh panitia dapat dikatakan sebagai relawan atau volunteer karena mereka mengerjakan tugas di luar tugas utama setiap hari. Biasanya bekerja di kantor sebagai tenaga administrasi. Saat kegiatan vaksinasi massal menjadi panitia yang membantu mendata peserta, mengarahkan dan mengatur agar tidak terjadi kerumunan. Kegiatan selain di hari kerja juga kadang-kadang pada hari sabtu dan ahad. Seharusnya  mereka libur tapi demi kegiatan vaksinasi rela masuk sebagai relawan. 

Menjadi volunteer atau relawan vaksinasi covid merupakan wujud perjuangan membantu mengatasi pandemi covid. Jika tenaga kesehatan berjuang di front terdepan mengobati dan merawat pasien covid, maka relawan vaksinasi berjuang meningkatkan imun masyarakat agar mampu melawan virus covid yang masuk ke dalam tubuh. 

Jika vaksinasi massal berhasil maka akan terbentuk herd immunity sehingga penderita covid akan berkurang. Hal itu akan mengurangi beban rumah sakit dan tenaga kesehatan. Jika beban berkurang maka pasien covid yang ada dapat ditangani dengan baik. Pasien penyakit selain Covid juga dapat ditangani sehingga derajat kesehatan masyarakat akan meningkat. 

Menjadi relawan selain bermanfaat untuk orang lain juga bermanfaat bagi diri sendiri. Saat turun memberikan bantuan akan muncul rasa bahagia dalam diri karena membahagiakan orang lain. Relawan kemanusiaan seperti bencana akan muncul rasa empati ikut merasakan penderitaan orang lain. Tumbuh rasa syukur karena masih banyak orang yang 'di bawah' kehidupan kita. Sering sekali yang jadi pembanding orang yang posisi ekonominya di atas kita. Akibatnya sulit untuk bersyukur.

Jika disertai semangat dan nilai-nilai keagamaan maka menjadi relawan juga merupakan jalan untuk meraih berkah dan pertolongan dari Allah SWT. Rasulullah bersabda: "Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba-Nya selama hamba itu menolong orang lain.” (Hadits Muslim, Abu Daud Dan Tirmidzi).