Berita

on 13 Juli 2020
  • Message of the Director

Terinspirasi dari pertanyaan seorang peserta pada webinar BE PROFESSIONAL SPRITUAL WITH LEARNING yang maknanya sekira "Mengapa harus berpikir keluar dari zona nyaman. Bukankah kita belajar, kuliah kemudian mencari pekerjaan agar hidup bahagia. Kalau selalu berpikir keluar dari zona nyaman.

Lalu kapan merasakan kebahagiaan".

Pernyataan ini sepintas ada benarnya. Hanya saja jika didalami lebih jauh tentu saja tidak benar.

Hal ini dapat dilihat dari sikap dua orang yg berbeda dalam kisah Embro dan Pipo yang disajikan oleh pemateri Kang Syamril.  Bahwa Embro sudah puas dengan kenikmatan yg dia dapatkan saat itu. Sehingga tidak lagi berpikir utk melakukan sesuatu yang lain,  yang menurutnya percuma. 

Berbeda dengan Pipo. Selain bersyukur dengan apa yang didapatkan. Pipo mencoba mencari cara lain utk mempertahankan bahkan meniingkatkan kesenangan yg didapatkan saat itu. 

Pipo lalu berpikir cerdas dan bekerja keras membuat saluran air dgn menggunakan pipa dari sumber air ke rumah rumah penduduk.  Sehingga air itu mengalir sepanjang waktu. Dan Pipo menikmati hasilnya dgn pendapatan yg lebih besar dan berkelanjutan. Sementara Embro yang puas dengan kenikmatan saat itu, dan membayangkan kenikmatan masa depan yang lebih baik. Justru kehilangan segalanya seiring waktu berlalu. 

Karena itu berpikir keluar dari zona nyaman maknanya adalah mencari ide segar untuk tetap mempertahankan  bahkan meningkatkan kenyamanan itu. Mengapa?  Karena tidak ada kenikmatan yang terus menerus. Seseorang yang sudah berada dipuncak tangga pasti akan turun. Demikian juga mangga yang sudah ranum pasti akan terjatuh. 

Karena itu mari belajar pada banyak produk  branded yang pernah ada seperti nokia,  sony ericson,  kodak dan lain lain. Sekarang tidak lagi ditemukan.  Karena tergantikan oleh produk produk baru yg pada awalnya diremehkan tetapi kemudian menyalib mereka. 

Pesannya adalah jangan puas dengan kenikmatan atau prestasi yang ada sekarang. Mari berpikir keluar dari zona nyaman menuju pada zona  yang lebih baik. 

Caranya adalah banyak membaca. Bukankah dengan membaca,  Allah memudahkan meraih surgaNya ( baca : kenyamanan). Membaca dalam arti menghimpun semua hal-hal yang terkait dengan makna membaca.  Seperti bertanya, latihan, menganalisa, meriset atau ikut webinar dll. Semua hal ini dapat menambah wawasan yg akhirnya dapat menginspirasi utk melakukan sesuatu yang lebih baik dari keadaan kita sekarang. 

Doa yg kita panjatkan minimal 5X sehari semalam " Rabbanaa aatinaa fiddun yaa hasanah wafilakhirati hasanah" . Sesungguhnya mengajarkan agar kita mendapatkan  kebahagiaan  pada dua tempat yang berbeda dengan kebagiaan yg berbeda,  yakni kebahagiaan didunia dan kebahagiaan yg lebih baik pada kehidupan akhirat.

Hal ini dapat diperoleh jika apa yg dibaca dilaksanakan sesuai dengan ridha Allah swt (QS. AL ALAQ : 1)

Wallahu a"lam

Makassar, 12 Juli 2020

Patris Hasanuddin