Berita

on 09 Oktober 2017
  • Message of the Director

Ketika peserta didik diminta pendapatnya tentang mata pelajaran yang paling banyak dihindari, maka hampir semua sepakat itu adalah matematika. Namun peserta didik yang behasil menaklukkan phobianya terhadap matematika akan menyatakan bahwa mata pelajaran ini sangat menyenangkan dan unik. Betapa tidak, ilmu di bidang mana saja tentu membutuhkan ilmu matematika. Keterkaitan dengan beberapa disiplin ilmu lain semakin menegaskan pentingnya ilmu matematika.

Matematika berarti proses berpikir kreatif dan petualangan besar ke dunia ide tanpa batas dan gagasan-gagasan untuk menjawab tantangan jaman dan memecahkan permasalahan-permasalahan penting yang ada dimasyarakat (Irwin Yousept, Ilmuwan Matematika di Eropa asal Indonesia). Matematika banyak menekuni perhitungan. Pengoptimalan pembelajaran matematika kini telah berkembang pesat, salah satunya adalah untuk penerapan teknologi tinggi seperti optimalisasi teknik pesawat terbang dan pembuatan energi terbarukan yang notabene sangat dibutuhkan masyarakat masa kini. Matematika dibutuhkan dimana-mana. Tanpa matematika semuanya tidak akan berfungsi. Contohnya tidak ada mobil, tidak bisa menelpon, tidak ada telepon gengam, tidak ada apapun. Dunia saat ini tanpa matematika sulit dibayangkan.

Ketika belajar matematika peserta didik secara langsung berpikir tentang angka, rumus, dan hal lain yang sulit. Banyak faktor yang menyebabkan matematika menjadi sulit, seperti takut matematika, dari awal tidak menyukai pelajaran matematika, orang yang mengajarkan matematika meggunakan metode yang membosankan, dan kebanyakan orang beranggapan bahwa matematika penuh dengan rumus sehingga akan membuat menjadi pusing menghafal semua rumus tersebut. Namun disinilah pemahaman kita harus diluruskan bahwa matematika bukan konsep menghapal tetapi proses pemahaman yang lebih diutamakan.

Faktor pengajar adalah faktor yang sangat menentukan. Bagaimana tidak, kecintaan seseorang terhadap apa yang dipelajarinya banyak ditentukan oleh kesusksesan pengajar memotivasi sehingga memudahkan peserta didik cepat mengerti konsep matematika itu sendiri. Banyak peserta didik di sekolah yang tidak menyukai pelajaran matematika dengan alasan karena tidak suka dengan guru yang membawakan materinya. Tetapi saya berpikir bahwa, bukannya mereka tidak menyukai guru tersebut, tetapi mereka hanya tidak cocok atau tidak nyaman dengan cara mengajar gurunya. Bukan personalnya, akan tetapi cara guru memberikan materi yang sulit itu sehingga membuat mereka menjadi tidak menyukai pelajaran matematika.

Inilah masalah pokok yang harus dicari solusinya. Tentu, jika masalahnya ada pada metode mengajar guru, maka yang harus dievaluasi adalah metode penyampaian materi matematika yang harus dibuat easy learning agar menjadi menarik dan membuat siswa-siswi di sekolah menjadi senang mempelajari matematika, kemudian menjadi cinta dengan matematika dan pada akhirnya terwujud meaningfull learning pada pembelajaran matematika. Untuk merubah mindset peserta didik mencintai matematika yang awalnya membenci, perlu trik dan pendekatan yang baik kepada peserta didik tersebut. Pengajar harus bisa membuat suasana yang lebih relax agar pelajaran tersebut bisa diterima dengan nyaman di dalam kelas. Misalkan saja, pengajar membuat ice breaking diawal pembelajaran, media pembelajaran dengan metode games dengan model quiz perkelompok, sehingga mereka bisa lebih aktif dalam memecahakan soal latihan yang diberikan, dan terjalin diskusi antar peserta didik. Karena dengan saling bertukar pikiran maka beban berpikir mereka akan lebih ringan dan santai. Sebab pelajaran matematika ini terbilang sulit, sehingga jika suasana kelas dibuat menjadi tegang, kaku dan membosankan, maka mereka akan sulit mendapatkan rasa nyaman dalam pembelajaran matematika.

Jika peserta didik sudah nyaman dalam mempelajari matematika, maka dengan sendirinya mempelajari ilmu matematika, karena mereka pasti telah merasakan daya tarik dari pelajaran matematika. Mereka akan merasakan keunikan dari ilmunya dan kemudian peserta didik akan menyadari kebutuhan mereka terhadap ilmu matematika yang memang penting dikuasai oleh penerus generasi bangsa sebagai pengetahuan dasar dalam pendidikan mereka masa sekarang dan masa depan.

Well apapun ilmunya, selama itu ilmu yang baik dan bermafaat maka wajib bagi semua orang, terutama generasi bangsa, dalam hal ini pelajar, untuk mempelajarinya, menerapkannya dan membaginya. Tak perlu khawatir akan kesulitan matematika yang kemudian akan muncul, kita hanya perlu menghadapi dan menyelami ilmu yang ada di depan kita. Moving on sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah maka pasti akan sampai ke tujuan yang diinginkan, yakni  menaklukkan matematika dengan mencintainya.