Berita

on 19 September 2017
  • Message of the Director

Bimbingan dan konseling merupakan salah satu unsur pent ing yang harus menjadi konsentrasi utuh di sebuah satuan pendidikan. Hal ini tergambar dari aktivitas yang dilakukan oleh siswa di sekolah yang tidak akan pernah lepas dari proses interaksi sosial. Selain interaksi sosialsebagai satu keutuhan manusia, tentunya siswa akan selalu melibatkan diri dalam melakukan aktivitas belajar dan juga menentukan arah pilihan karirnya secara tidak langsung. Semua hal tersebut tercakup dalam bidang-bidang yang ada dalam program kerja BK, yakni: bimbingan pribadi; bimbingan sosial; bimbingan belajar; serta bimbingan karir.

Keempat bidang tersebut masing-masing memiliki cakupan peran berbeda di setiap siswa. Meskipun tidak dipungkiri akan ada satu dua siswa yang cenderung kebutuhannya pada bidang tertentu saja. Pengaplikasian ke empat bidang di atas, bukan hanya siswa yang “BERMASALAH” pada bidang-bidang tersebut saja, melainkan pada semua siswa secara keseluruhan. Siswa berhak untuk memperoleh ke empatnya, bergantung dari hasil analisis kebutuhan yang telah dilakukan.

Bagaimana proses kerjanya? Pertanyaan tersebut merupakan pertanyaan klasik yang sudah sering dialamatkan kepada guru BK di sekolah. Pertanyaan yang mengisyaratkan seakan-akan BK di sekolah tidak bekerja secara maksimal dan tidak melakukan apa-apa. Ini adalah tantangan. Tidak dipungkiri, mencuatnya image  itu tentunya karena kenyataan yang terdapat di lapangan cenderung seperti itu. Namun, jika tidak  diluruskan dan diklarifikasi, tentunya akan menjadi wacana yang tidak dapat dipertanggungjawabkan, bukan? Insya Allah demi perbaikan dan kemajuan bersama, pasti BISA.

Kuota untuk masing-masing guru BK di sekolah idealnya adalah 150 siswa per satu orang guru BK. Bisa dibayangkan jika dalam satu sekolah ada ratusan bahkan ribuan siswa, dan guru BK hanya terdiri atas  dua  atau tiga orang saja, tentu ini merupakan tantangan tersendiri bagi guru BK tersebut. Ini masih dalam taraf kuota siswa asuh, belum sistematika pekerjaan yang sudah mendarah daging di sekolah, bahwa “SETIAP ADA SISWA BERMASALAH” pasti muaranya adalah ke ruang BK. Tentunya, secara tidak langsung, kita mengarahkan pola pikir siswa untuk menerjemahkan bahwa ruangan BK dan guru BK hanya untuk tempat siswa bermasalah, apapun itu bentuk masalahnya. Seperti halnya yang telah dikemukaan lebih awal oleh Freud dalam teori Psikonalisis, bahwa segala ingin-ingin seseorang itu tertanam atau petunjuk dari alam bawah sadar”. Artinya adalah frame bahwa guru BK dan ruang BK untuk siswa bermasalah telah tertanam dalam alam bawah sadar siswa dan wujudnya, semua jenis masalah akan dialihkan dan diserahkan ke BK.

Padahal, seyogyanya tidak demikian sesuai dengan gambaran bagan di bawah ini:

<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]-->

Gambar di atas menunjukkan bahwa pada ranah tertentu, barulah guru BK berwenang untuk memberikan bimbingan atau konseling kepada siswa. Gambar tersebut tidak memberikan pengecualian, bahwa hanya siswa yang memiliki masalah dalam kategori ‘sedang yang boleh ditangani guru BK. Yang perlu dipahami bahwa ada alur untuk penanganan kasus sebagai bentuk profesionalitas dalam bekerja. Tentunya sistem harus kita ‘hargai’ sebagai bagian yang mengatur kita, tetapi kembali lagi, bahwa manusialah yang membut sistem itu, sama halnya dengan sistem alur penanganan BK di sekolah.

Hal ini senada dengan isi dalam buku “Kerja Itu Ibadah” tentang pembahasan memaknai pekerjaan, bahwa pekerjaan apapun itu harus kita maknai dengan penuh luar biasa, agar kita tidak hanya sekadar bekerja yang mengikuti segala aturan dan arahan, tanpa mampu untuk melakukan tindakan apabila ada ketidaksesuaian yang kita rasakan.

Pemaparan di atas masih merupakan sebagian dari aspek yang menjadi kendala-kendala BK di sekolah (sesuai dengan gambaran beberapa di lapangan), pada artikel berikutnya akan dibahas lebih lanjut. Namun, pertanyaannya bagaimanakah idealnya BK di sekolah seharusnya? Berikut penjelasannya!

<!--[if gte vml 1]> <![endif]--><!--[if !vml]--><!--[endif]-->

Gambar di atas merupakan sebagian kecil yang menjadi gambaran tentang pelaksanaan BK di sekolah. Pada tulisan ini, penulis hanya ingin menyampaikan bahwa perlu koordinasi dari semua pihak, bahwa terkait mendidik, mendisiplinkan, dan megarahkan mereka untuk sukses. Sekarang bukan waktu untuk saling menyalahkan, tetapi mari tudang sipulung seraya menyatukan pendangan untuk keberhasilan anak didik kita.

 

Seperti kata Freud, jangan karena ingin-ingin kita melakukan sesuatu

Berusahalah menstimulus diri dengan kebaikan

Maka respon fisik dan psikis juga akan baik

Entah di awal akan manis atau pahit

Teruslah berbuat baik

Actually,

If you want to be a succes person, you must know, understand and believe your self