Berita

on 09 Januari 2019
  • Message of the Director

Bagian 1

Hati

Sekilas tentang hati

Secara fisik hati adalah segumpal daging yang berbentuk bundar memanjang, terletak di tepi kanan dada. Di dalamnya terdapat lubang-lubang yang terisi darah hitam. Hati merupakan sumber dan tambang nyawa. Hati secara rohaniah adalah sesuatu yang halus, yang berasal dari alam ketuhanan. Hati adalah tempat untuk merasa, mengetahui, mengenal segala hal, I beri beban, disiksa, di caci dan sebagainnya.

Hati adalah pokok dari segala sesuatu yang dimiliki oleh manusia. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, Nu’man ibn Basyir RA berkata:

‘’Aku mendengar sambil memegang kedua belah telinganya Rasulullah SAW bersabda, ‘’Sesungguhnya perkara halal itu jelas dan perkara haram itu pun jelas, meskipun diantara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat yang tidak diketahui oleh orang banyak. Oleh sebab itu, barang siapa menjaga diri dari perkara syubhat, berarti dia telah bebas ( dari kecaman) untuk agamanya dan kehormatannya. Bararang siapa yang terjerumus ke dalam syubhat, berate dia telah terjerumus kedalam perkara haram seperti pengembala yang mengembala di sekitar kawasan larangan, maka kemungkinan besar binatangnya akan memasuki kawasan tersebut. Ingatlah! Sesungguhnya setiap penguasa (kerjaan), memiliki daerah terlarang. Ingatlah! Sesungguhnya daerah yang terlarang itu milik Allah adalah apa saja yang diharamka-Nya. Ingatla! Sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging, apabila baik maka baiklah seluruh tubuhnyadan jika rusak, maka rusaklah selutuh tubuhnya, tidak lain dan tidak bukan itulah hati.” (HR. al-Bukhari, Muslim, at-Tirmizi, an-Nasai, Abu Daud, Ibnu Majjah, Ibnu Hanbal, dan ad-Darimi).

Bagian 2

Al-Insan dan Al—Kamil

Al- insan al-kamil, tidak boleh tidak, kita harus mengenal tasawuf terlebih dahulu. Dalam tasawuf terdapat sebuah proses. Proses tersebut memiliki tahapan-tahapan, yakni takhalii, tahalli, dan tajallii.

Dalam takhallii, terdapat ciri moralitas islam, yakni menghindarkan dari dari sifat-sifat tercela, baik secara vertical maupun horizontal, misalnya iri (hasud) terhadap nikmat yang diterima orang lain, memamerkan diri (riya) untuk kepentingan subjektif, kecenderungan pemenuhan materi secara berlebih-lebihan (hirsh) dan sebagainya.

Tahalli merupakan pengungkapan secara progresif nilai moral yang terdapat dalam islam, seperti tobat, warak (wara), suhud, sabar, syukur, kanaah (qona’ah), rida (ridha), tawakkal, dan sebagainya. Semua ini disebut station (maqam).

Insan kamil secara teknis, istilah insan kamil digunakan pertama kali oleh Ibnu Arabi untuk menggambarkan prestasi tertinggi manusia. Doktrin ini merupakan puncak doktrin wihdat al-wujud, bahwa hanya allah satu-satunya yang berwujud, sementara alam adalah sebagai lokus (bagian) tajalli dari nama-nama (asma) dan sifa-sifat Allah dalam wujud yang terbatas.

Ma’rifatullah membentuk insan kamil

Ma’rifat disitilahkan al-Gazali dengan mukasyafah (terbukanya hijab atau penghalang) dengan hati (qalbu), Ma’rifat ibarat cermin yang bisa menangkap sesuatu yang sedang berada di depannya. Mukasyarafah adalah hasil pengalaman syariat dan hakikat, sebagaimana hadist Nabi SAW:

‘’Barang siapa yang mengamalkan apa yang diketahui, maka allah akan mewariskan ilmu yang belum diketahuti.” (al-Hadist)

Dalam (QS. Al-Baqarah) 2:282 Allah SWt berfirman:

“Bertakwalah kepada Allah, niscaya Dia akan memberitahumu.”

Menurut saya, ma’rifat itu ada dua: ma’rifat bagi orang al-khawas, yakni orang khusus dan istimewa yang berada pada tingkatan ma’rifah al-Haqq (mengetahui dan mengenal kebenaran). Al-Haqq, dalam kedudukannya sebagai isim ma’rifat, dalam bahasa Indonesia diterjemahkan ‘’Kebenaran” artinya obyeknya telah jelas, yakni Allah SWT.

Aktualisasi insane Kamil

Insan kamil merupakan kualitas moral yang hidup dan dinamis, tidak menjelma dalam wujud fiqur seseorang, tetapi hanyalah proses penyempurnaan diri, dan tempat manusia mencoba dan berusaha membuat dirinya semakin sempurna.