• PELANTIKAN KPU DAN PANWASLU PEMILIHAN OSIS SMA ISLAM ATHIRAH 1 MAKASSAR

  • Webinar SMA Islam Athirah 1 Makassar Bahas

    Cara Terbaik Pilih Sekolah di Masa Covid-19

  • Resume Buku: Mendidik Itu Membahagiakan

  • BERKOMUNIKASI VIA PERPESANAN INSTAN: ETIKA ITU PENTING!

  • PAT Virtual Uji Integritas Siswa SMA Islam Athirah 1 Makassar

  • By Administrator on 03 Juli 2020
    • SMA Kajaolalido
    • Berita

    SMA Islam Athirah 1 Makassar menggelar webinar pendidikan pada Kamis (2/7/2020). Kegiatan tersebut mengangkat tema “Memilih Sekolah Terbaik di Masa Covid-19”. Seminar virtual yang diikuti lebih dari tiga ratus peserta itu digelar melalui aplikasi konferensi video zoom serta ditayangkan secara langsung melalui kanal YouTube Sekolah Islam Athirah, 178 peserta bergabung melalui aplikasi zoom dan 190 menyaksikan tayangan secara langsung mellaui YouTube.

    “Ada lebih dari 300 peserta yang bergabung, baik itu di zoom maupun di YouTube, peserta juga datang dari berbagai wilayah, ada dari Sumatra, Jawa, Kalimantan, bahkan ada bebeapa orang dari Malaysia.” Ujar Wakil Kepala Sekolah Bidang Sarana Prasarana dan IT SMA Islam Athirah 1 Makassar Yusran, S.Pd., M.Pd.

    Penyelenggara kegiatan menghadirkan tiga pembicara sekaligus, yakni Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah IX Prof. Dr. Jasruddin, M.Si membawakan materi terkait inovasi pembelajaran di masa Covid-19, Rektor Kalla Business School sekaligus Direktur Sekolah Islam Athirah H. Syamril, S.T., M.Pd. membawakan materi manajemen pengelolaan sekolah swasta, dan Alumni Prodi Hubungan International Universitas Hasanuddin Nurul Titania Ishaq, S.I.P. membawakan materi manfaat program sekolah terhadap pengembangan diri di perguruan tinggi. Webinar dipandu oleh Alumni Korea National University of Arts, Asri Mery Sidowati, S.Sn., M.F.A. yang juga merupakan guru SMA Islam Athirah 1 Makassar.

    Kepala SMA Islam Athirah 1 Makassar menjelaskan bahwa kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata SMA Islam Athirah 1 Makassar untuk berbagi pengetahuan kepada penyelenggara, pemerhati, dan pegiat pendidikan terkait berbagai inovasi pendidikan selama masa Covid-19. Selain itu, lanjut Tawakkal, kegiatan tersebut juga memberikan pemahaman kepada peserta khsusunya orang tua siswa bagaimana memilih sekolah terbaik khususnya di masa Pandemi Covid-19.

    “Ini bentuk nyata kita untuk berbagi informasi terkait berbagai inovasi di masa pandemi ini. Pemaparan materi webinar ini nantinya juga dapat membuka ruang mata orang tua untuk memilih sekolah terbaik untuk anaknya” kata Tawakkal saat dihubungi via whatsapp, Jumat (3/7/2020).

    Lebih kurang tiga jam webinar tersebut berlangsung serius, antusias peserta sangat terlihat saat kolom percakapan di aplikasi zoom dan kolom komentar di kanal YouTube dibanjiri berbagai pertanyaan dari peserta.

    Lebih lanjut Tawakkal mengungkapkan bahwa SMA Islam Athirah 1 Makassar akan menggelar webinar pada waktu mendatang dengan tema yang lebih menarik dengan menampung berbagai saran dan masukan dari warganet.

    “Ke depan kita akan melakukan webinar dan talkshow tentang pendidikan, karena hal seperti ini dapat menguatkan kita sesama pendidik, juga menjawab permintaan netizen agar pihak SMA Islam Athirah 1 Makassar membuka kegiatan kegiatan berbagai materi webinar selanjutnya” pungkasnya.

    By Administrator on 27 Juni 2020
    • SMA Kajaolalido
    • Kegiatan

    Penulis Buku: H. Syamril, S.T., M.Pd.

    Pengulas: Yusminiwati, M.Pd. (Guru SMA Islam Athirah 1 Makassar)

     

    Judul buku “Mendidik itu Membahagiakan” beliau ambil dari salah satu judul artikel dari 30 artikel yang terdapat dalam buku ini. Alasan dalam pengambilan judul tersebut adalah karena apapun profesi yang digeluti harus dapat membahagiakan termasuk mendidik. Syarat bahagia yaitu mencintai apa yang dikerjakan. Lebih bagus lagi jika mengerjakan apa yang dicintai.

    Hal yang istimewa dari buku ini adalah diterbitkan di Hari Kebangkitan Nasional dan juga 27 Ramadhan 1441 H. Salah satu harapan dari penulis adalah agar buku ini dapat bermanfaat untuk memajukan pendidikan nasional menuju kebangkitan bangsa. Buku ini merupakan kumpulan tulisan dari penulis yang bertema pendidikan, mulai ditulis dari tahun 2017-2020. Kumpulan tulisan ini dibagi atas 4 kelompok yaitu tulisan tentang  manajemen sekolah, guru, siswa, dan umum. Artikel-artikel tersebut ditulis sesuai dengan kondisi aktual yang beliau hadapi khususnya di Sekolah Islam Athirah.

    Beberapa artikel tentang manajemen sekolah yang penulis bahas, diantaranya: Meraih Surga di Tempat Kerja; Sekolah Unggul Menurut JK; Manajemen ala Korporasi di Athirah; Speak by Data, Say With Number; Tikungan Tajam Sekolah, Kaizen Ala Jepang di Sekolah, dll.

    Adapun tulisan-tulisan tentang manajemen guru, diantaranya: Mencari Guru Sejati; Guru Sejati; Peran Guru Paripurna; Find the Big Way; Mendidik itu Membahagiakan; Pesan Jusuf Kalla Tentang Guru, dll.

    Sedangkan untuk siswa dan umum, beberapa judul artikel yang terdapat dalam buku ini, diantaranya: Memilih Jurusan Kuliah, Menjadi Wartawan, Menjadi Dokter, Ujian Kejujuran, Literasi dan Lemoterasi, Al-Qur’an dan High Order Thinking Skill; Memproduksi Ilmu, Resopa Temmangingngi, dan Pendidikan Ramadhan.

    Dalam artikel “Meraih Surga di Tempat Kerja”, penulis mengemukakan bahwa agar dapat meraih surga di Athirah ada 3 kunci yaitu iman, ilmu, dan amal. Jika diturunkan dalam aktivitas menjadi 5 yaitu: beribadah (iman), belajar (ilmu), bekerja, berkarya dan berbagi (amal). Semoga dengan iman, ilmu, amal serta aktivitas-aktivitas tersebut dapat mewujudkan insan athirah yang ‘alim, ‘abid, dan ‘mujahid.

    Pesan penulis bagi guru dalam artikel yang berjudul “Menjadi Guru Sejati”, adalah:

    “Jika kita ingin menjadikan profesi guru sebagai profesi favorit maka guru harus berusaha menjadikan dirinya sebagai sosok yang favorit dan idola di mata siswa. Favorit dan idola bukan karena penampilan yang mentereng dan wah seperti selebriti dan artis, tapi karena kepribadian, karakter dan akhlak yang mulia.

    Dengan kemuliaan akhlaknya, guru dapat menawan hati siswa sehingga cinta belajar menjadi manusia yang berkarakter. Apalagi jika gurunya juga sosok yang cerdas dan berwawasan luas maka siswa akan semakin terpesona.”

    Apa yang membuat guru lebih bahagia? Penulis mengemukakan bahwa yang membuat guru lebih bahagia adalah karena mereka merasakan hidup yang lebih bermakna dan bermanfaat. Kebahagiaan seorang guru bukan pada saat menerima gaji berlipat, tetapi kebahagiaan guru akan muncul saat melihat wajah anak didiknya yang sukses menggapai cita-cita, hidup lebih sejahtera dan memiliki strata keilmuan yang lebih tinggi dari gurunya.  

    Kisah Chaerul yang berhasil merakit pesawatnya sendiri di daerah Pinrang, penulis angkat dalam judul artikel Resopa Temmangingngi. Judul ini merupakan ungkapan dalam bahasa Bugis, yang artinya “Usaha Tak Kenal Menyerah”. Kekuatan impian dari Chaerul disertai keyakinan bahwa dia bisa dan mampu mewujudkan impiannya memberikan hasil yang luar biasa. Usaha pantang menyerah tersebut pada akhirnya dengan “namalomo naletei pammase dewata” yang akhirnya akan mendapatkan pertolongan atau rahmat dari Allah, SWT.

    By Administrator on 11 Juni 2020
    • SMA Kajaolalido
    • Kegiatan

    Sudah hampir empat bulan pertemuan benar-benar dibatasi, bahkan terputus sama sekali. Dalam dunia pendidikan, sekolah yang menjadi wadah untuk mengenyam pendidikan bergeser ke sebuah kotak kecil yang kita sebut handphone, laptop, atau pun gawai yang dapat digunakan mengakses internet dan menjadi alat komunikasi efektif.

     

    Pandemi Covid-19 ini menyebabkan banyak perubahan yang mendadak. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi siswa, guru, dan seluruh warga sekolah untuk saling berinteraksi. Proses belajar mengajar dilakukan melalui pesan singkat atau konferensi video. Banyak kendala yang dihadapi sehingga hal tersebut terkadang dijadikan suatu pemakluman. Namun, ada hal yang tidak bisa dimaklumi. Hal itu adalah etika berkomunikasi.

     

    Lazimnya, guru dan siswa melakukan tatap muka di dalam kelas. Komunikasi melalui pesan instan jarang dilakukan karena hampir setiap kita bertemu, terkecuali pada hal-hal yang prinsip atau urgen. Akan tetapi, di kondisi yang tidak memungkinkan ini, mau tidak mau, suka tidak suka, hal yang jarang dilakukan itu menjadi sebuah keutamaan dan rutinitas harian. Yah, jalur komunikasi satu-satunya yang paling efektif adalah melalui telepon, perpesanan, atau panggilan video. Salah satu tantangan yang kadang terlupakan adalah cara berkomunikasi. Apalagi antara siswa dan guru, ataupun sebaliknya.

     

    WhatsApp adalah  salah satu platform perpesanan instan terbesar dengan memiliki paling banyak pengguna serta memiliki fitur yang mumpuni. Mulai dari pengiriman teks biasa, gambar, sampai dengan pengiriman dokumen dalam format doc, xls, hingga pdf.

     

    Namun,  beberapa dari pengguna aplikasi ini seringkali kurang memerhatikan aspek sopan santun dan etika dalam bercakap dan berbincang dengan oranglain sehingga muncul rasa risih dan kurang nyaman.

     

    Komunikasi secara langsung dan tak langsung sungguh jelas berbeda.  Saat berkomunikasi langsung dengan tatap muka ataupun pertemuan, seorang siswa yang akan bertanya pada guru mungkin mengawalinya dengan permisi ataupun salam. Bahasa yang digunakan terkesan lebih halus dan sopan. Layaknya percakapan biasa yang tidak melanggar etika ataupun menyalahi aturan berkomunikasi. Namun, beda cerita pada saat siswa akan mengawali percakapan dengan guru untuk menanyakan nilai ataupun tugas-tugas sekolah. Siswa cenderung to the point, lupa menyebut nama, bahkan kadang terkesan memaksa saat hendak chat dengan gurunya.

     

    Nah, hal ini menarik untuk diperhatikan. Kita sepakat bahwa terkadang orang melakukan kesalahan, bukan karena ia seutuhnya salah. Orang melakukan kesalahan karena ia memang tidak paham sama sekali. Begitulah kira-kira ilustrasi untuk siswa yang belum terbiasa memperhatikan etika berkomunikasi, khususnya siswa di jenjang menengah. Mereka belum dan tidak terbiasa sebelumnya melakukan ini sehingga kalimat-kalimat yang mereka tuliskan berpengaruh pada perlokusi mitra tuturnya, yang dalam kontek ini adalah gurunya. Adanya gap usia dengan guru juga menjadi kendala dalam berkomunikasi. Siswa yang tumbuh di zaman berbeda kadangkala menimbulkan miskomunikasi bahkan kesalahpahaman saat berbicara langsung, apatahlagi jika berkomunikasi via chat.

     

    Sebagai seorang pendidik, tentu tidak bisa membiarkan hal ini terjadi begitu saja. Teguran atau melakukan edukasi adalah sebuah kewajiban agar kekeliruan yang terjadi tidak terus menerus terjadi. Namun, hal ini tidak bisa selesai hanya dalam satu dua hari saja. Edukasi dalam berkomunikasi bukan hal sepele untuk diajarkan untuk anak didik kita yang notabene belum memahami konsep komunikasi ini secara utuh.

     

    Siswa di usia remaja memiliki ego yang tinggi. Ini bercermin pula pada cara mereka berkomunikasi. Siswa terkesan menodong dengan banyak pesan dan panggilan saat chatnya tidak dibalas. Mungkin, bagi siswa ini adalah pesan yang lumrah, namun, bagi seorang guru, yang sepatutnya memahami konsep berkomunikasi, hal ini adalah sesuatu yang fatal.  

     

    Kondisi saat ini belum dapat kita pastikan akan berlangsung sampai kapan. Selama itu pula komunikasi melalui perpesanan instan akan terus bergulir. Miris rasanya jika etika berkomunikasi kita kesampingkan. Etika berkomunikasi antara siswa dan guru perlu dicermati dan tidak disepelekan, karena jika hal ini terjadi, akan terjadi kesenjangan sosial antara siswa dan guru. Sebagai seorang guru, kita sangat perlu mengoreksi tata bahasa siswa-siswa kita, bukan hanya pada saat mendengarkan mereka berbicara secara langsung, tetapi juga saat siswa melakukan percakapan via chat. Adanya peran guru untuk mengedukasi etika berkomunikasi bagi siswa, nilai-nilai afektif seperti kesopanan akan tetap dijunjung tinggi. Sehingga, kebiasaan tersebut akan terus-menerus dilakukan dan menjadi bekal kebiasaan hingga mereka berhadapan dengan dosennya di perguruan tinggi nantinya.

     

    Para pelajar pun harus mengetahui konsep dasar etika berkomunikasi dengan guru ataupun dosen, yakni (1) Memperhatikan waktu saat ingin menghubungi guru ataupun dosen. Lazimnya, untuk chat dimulai pukul 08.00 hingga 20.00. (2) Mengucapkan salam untuk mengawali percakapan. (3) Walaupun tidak melakukan kesalahan, ada baiknya merendahkan hati untuk meminta maaf karena telah mengambil waktunya untuk membaca pesan kita, (3) Menuliskan identitas dengan lengkap, karena guru atau dosen kita bukan dukun atau cenayang yang mengetahui Anda secara langsung, (4) Biasakan mengucapkan terima diakhir percakapan.

     

    Dengan mengedepankan etika berkomunikasi melalui perpesanan instan, komunikasi akan berjalan dengan baik, komunikasi akan lebih terarah, serta tata krama dan kesopansantunan berbahasa juga terjaga.

     

    Penulis: Sabrianti

    By Administrator on 05 Juni 2020
    • SMA Kajaolalido
    • Berita

    SMA Islam Athirah 1 Makassar hari ini menggelar Penilaian Akhir Tahun (PAT) bagi siswa kelas X dan XI, Jumat (5/6/2020). PAT yang sekiranya digelar langsung di sekolah, kali ini digelar dari rumah masing-masing siswa karena status darurat pandemi Covid-19 yang mengharuskan dilakukannya pembatasan sosial.

     

    Pelaksanaan PAT yang kali pertama secara virtual ini menggunakan platform Office 365. Panitia mengirimkan link kepada siswa untuk dapat mengakses soal yang diujikan sesuai jadwal. Siswa dapat mengakses soal tersebut dengan menggunakan berbagai peramban seperti safari, mozilla, dan chrome. Soal ujian berbentuk pilihan ganda dan esai. Setiap mata pelajaran yang diujikan, siswa diberi kesempatan selama 1 jam untuk menyelesaikan soal tersebut.

     

    Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum dan SDM B.J. Gunawan, S.Pd., M.Pd. mengatakan bahwa hingga H-1 persiapan pelaksanaan PAT tidak mengalami kendala apapun karena siswa dan guru di SMA Islam Athirah 1 Makassar telah cakap teknologi.

     

    “Sejauh ini tidak ada kendala, guru dan siswa kita semuanya sudah melek teknologi, insya Allah berjalan sesuai rencana” ucap Herr Gun sapaannya.

     

    Ia berharap melalui pelaksanaan PAT pada tahun ini, selain sebagai ujian pengetahuan pada mata pelajaran yang diujikan juga sebagai ujian integritas pada siswa.

     

    “Harapannya integritas kejujuran siswa dapat terwujud dengan peran orang tua mengawal dari rumah. Yang terpenting, siswa jangan panik ketika ada masalah jaringan karena ada helpdeks panitia yang bisa membantu” pungkasnya.

     

    Penilaian Akhir Tahun (PAT) SMA Islam Athirah 1 Makassar yang digelar mulai hari ini akan berlangsung selama satu pekan hingga hari Jumat mendatang (12/6).

     

Agenda 2